Monday, March 19, 2007

Memahami kecanggihan ciptaan-Nya


Mungkin sejak kita dari kecil kita sudah mempelajari ilmu agama baik di bangku sekolah, di rumah lewat bimbingan guru mengaji, atau membaca artikel-artikel tentang agama Islam ataupun kita mendengar ceramah-ceramah lewat radio atau televisi. Terus terang saja selama saya di bangku sekolah dulu, pelajaran agama Islam termasuk pelajaran yang paling bikin saya mengantuk di kelas apalagi kalau guru agamanya tidak punya sense of humour atau bahasa kerennya nggak bisa melawak wah rasanya tidur di kelas dengan mimpi yang indah sepertinya merupakan alternatif yang lebih baik. Apalagi kalau pelajarannya mengenai akhlak dan budi pekerti, waduh rasanya kok pelajarannya berputar-putar saja dan terus-terusan jalan di tempat! Membosankan!
Yah, itulah saya dulu! Tanpa mengecilkan arti guru-guru agama kita yang telah bersusah payah mengajari kita untuk mendidik kita agar menjadi pribadi-pribadi yang beriman dan soleh, banyak pula guru-guru agama yang hanya berorientasi pada kriteria 'meluluskan atau tidak meluluskan' murid, dan bukan berorientasi kepada fakta bahwa pelajaran agama bukan seperti matematika yang diuji lewat ulangan atau ujian akhir, tapi pendidikan agama lebih berorientasi kepada pembentukan pribadi yang soleh dan bertakwa. Seorang murid mungkin dapat lulus dengan nilai memuaskan dalam pelajaran agamanya namun ia mungkin lulus karena ia sangat pandai dalam menghafal habis pelajaran namun mungkin ia gagal menghayati ataupun menangkap esensi dari pelajaran agama tersebut, sehingga bagi murid-murid seperti ini masalah agama sudah selesai dan 'berakhir' di kertas ulangan saja! Sungguh sayang jikalau hal seperti itu terjadi. Di sini kita dapat menyimpulkan dalam masalah pendidikan agama perlu pendekatan tersendiri yang lebih kreatif agar maksud dan tujuan pembelajaran agama dapat sesuai dengan tujuan hakiki dari pembelajaran agama itu sendiri.


Terus terang, saya dulupun seperti itu. Masalah agama 'hanya penting' pada saat mau ujian atau ulangan saja, setelah itu sudah terlupakan. Sepertinya pelajaran agama di sekolah seperti setengah dipaksakan, itu pemikiran saya dahulu. Namun, alhamdulillah seiring dengan berlalunya waktu, pemikiran sayapun menjadi lebih bijaksana. Semakin tua, saya semakin menghargai setiap informasi dan isi yang terkandung di dalamnya. Dan Internet-pun (teknologi ciptaan Allah yang sayangnya ditemukan oleh orang-orang kafir) sedikit banyak membantu saya dalam menghilangkan rasa dahaga saya akan informasi. Entah telah berapa banyak artikel menarik yang telah saya temui di dunia maya ini yang akhirnya membawa saya pada kesadaran secara tidak langsung bahwa agama (Islam) ternyata jauh lebih luas dari hanya sekedar masalah ibadah, akhlak, budi pekerti ataupun sejarah Islam. Tapi yang paling menarik bagi saya adalah masalah ilmu pengetahuan dan teknologi yang menarik saya pada sebuah kesimpulan bahwa teknologi yang dibuat manusia belum apa-apa dibandingkan dengan yang diciptakan alam (Allah swt).

Contohnya adalah tubuh manusia. Tubuh manusia merupakan kreasi yang sangat canggih yang belum bisa tertandingi sama sekali baik oleh robot atau komputer tercanggih sekalipun. Meskipun kini di berita-berita banyak kita lihat robot-robot yang mulai menirukan gerakan manusia, namun saya yakin belum ada robot yang bisa menuruni anak tangga dengan satu kaki tanpa kehilangan keseimbangan dan jatuh! Karena untuk menirukan keseimbangan seperti itu memerlukan kecanggihan yang sangat luar biasa dan untuk saat ini masih di luar kemampuan para insinyur robotik. Dan suatu ketika saya juga pernah menemukan artikel tentang sel otak. Di situ dikatakan bahwa sel otak hanya mendapatkan energi/kalorinya dari karbohidrat. Seperti kita ketahui bahwa kalori untuk energi di dapat dalam tubuh kita bukan hanya dari karbohidrat, tetapi juga dari lemak, protein, dan lain sebagainya. Nah, jika misalnya tubuh kehabisan karbohidrat untuk suplai energi ke otak, maka dengan menggunakan enzim tertentu maka lemak dan protein dapat segera diubah dengan canggihnya menjadi karbohidrat sehingga sel-sel otak tetap mendapatkan suplai energi/kalori. Sekarang bandingkan misalnya dengan mobil, secanggih-canggihnya sebuah mobil jikalau ia ingin mengubah bahan bakarnya dari bensin ke alkohol misalnya, maka mungkin seluruh mesin harus dibongkar dan diganti dengan mesin yang bisa berfungsi dengan bahan bakar alkohol, sungguh primitif dibandingkan tubuh manusia. Ada lagi yang mengagumkan saya, yaitu sebutir telur, mungkin jika tanpa bantuan 'pantat ayam' manusia mungkin sangat sulit untuk membuat sebutir telur tiruan yang sempurna! Andaikan mungkin manusia dapat membuat sebuah telur di laboratorium atau pabrik-pabrik mungkin harganya dapat jauh lebih mahal dari sebuah mobil! Karena membuat sebuah telur tanpa 'pantat ayam' jauh lebih sulit dibandingkan dengan membuat sebuah mobil atau bahkan pesawat jet sekalipun!

Di sini yang akan saya sampaikan ada 2 hal yaitu: Pertama, alangkah bodohnya kita jikalau kita tidak mempercayai keberadaan Allah swt. Jikalau mobil, pesawat jet, komputer dan lain sebagainya yang jauh lebih primitif aja ada yang mencipta apalagi manusia dan makhluk-makhluk hidup lainnya yang sistem dan mekanismenya jauh lebih canggih dibandingkan mobil ataupun pesawat jet pasti ada pula yang menciptakannya. Kedua, bahwasannya kita sebagai ummat islam (muslimin) kita harus beranggapan bahwa teknologi dan ilmu pengetahuan juga merupakan bagian dari Islam bukan hanya Al-Qur'an dan hadith saja, karena teknologi dan ilmu pengetahuan juga merupakan ciptaan Allah, manusia hanya menemukan saja dan menciptakan simbol-simbolnya berupa rumus-rumus. Jangan sampai ilmu pengetahuan dan teknologi ciptaan Allah itu semuanya diketemukan dan dikuasai oleh orang-orang kafir!! Karena tentu saja itu akan sangat merugikan bagi umat Islam sendiri! Wassalamu 'alaikum wr wb.


No comments: