Saturday, June 30, 2007

Room 13: Penutur Bahasa Urdu yang menyebalkan !!

Ini masih ada sedikit kaitan dengan postingan saya sebelumnya tentang room 13 Islam. Kita tahu bahwa akhir-akhir ini di room 13 terutama pagi hari WIB, sering dipenuhi oleh para booters yang mencoba memblok room tersebut dengan cara login dengan multi ID, agar room penuh dan tidak ada chatter yang bisa masuk room tersebut. Memang sungguh menyebalkan! Tapi bukan hanya para booter tersebut yang bikin sebal saya (dan mungkin anda juga), tetapi para penutur bahasa Urdu juga tak kalah menyebalkannya! Lho? Ya betul! Begini masalahnya:

Sebenarnya saya adalah orang yang toleran, orang mau bicara apa saja dalam bahasa apa aja silahkan asal jangan menyinggung pribadi saya atau menyinggung apapun yang berhubungan dengan saya (tentu saja semua orang juga pasti setuju dengan pendapat saya). Nah, sebenarnya saya tidak keberatan orang-orang Pakistan (dan sebagian orang India) itu menggonggong dalam bahasa Urdu, tapi yang bikin menyebalkan adalah mereka sering merasa terganggu kalau kita bicara dalam bahasa Indonesia, sementara mereka sendiri ramai mengembik dalam bahasa Urdu! Terutama chatter yang bernama SAM AHMAD, yang sampai meng-ignore2 orang yang bicara pakai bahasa Indonesia, padahal dia sendiri seringkali meringkik dalam bahasa Urdu! (Meskipun di-ignore sama seekor penutur bahasa Urdu sama sekali tak berpengaruh pada keceriaan berchatting di room!), saya heran, orang-orang Inggris atau Amerika yang berpendidikan saja tak akan berani bersikap seperti itu (contohnya lihat sis loretta, sis omniscent_love, dsb. mereka tak pernah bersikap kekanak2an seperti itu, Jikalau ada orang yang mengaku dari Amerika/Inggris yang mempunyai sifat kekanak2an seperti itu, bisa dipastikan dia pasti imigran dari Pakistan atau sekitarnya atau 'the haters' murni!), moso cuma sebatang penutur urdu yang notabene hanya orong-orong (eh maksud saya orang-orang) Pakistan yang lebih 'hina' mau coba melarang kita2 yang berbahasa Indonesia. Memang siapa yang mau belajar bahasa Urdu?? Bahasa Perancis, Jerman atau Jepang sih boleh-boleh aja dipelajari, tapi bahasa Urdu?? Siapa yang mau!! (Mungkin bro knoppix mau ya! hehehe....!!). O iya untuk klarifikasi, dan untuk obyektivitas, tentu tidak semua penutur Urdu bersifat demikian, ada juga sih yang bersifat toleran. Untuk diketahui pula bahwa saya (dan juga penutur bahasa Indonesia lainnya) tidak pernah keberatan mereka berbahasa Urdu, karena kita mengetahui bahwa apapun yang mereka bicarakan dalam bahasa Urdu, pasti temanya gombal semua!! Hehehehe...!!

Ok deh, bagi penutur bahasa Urdu mudah-mudahan hati mereka terbuka bahwa di dunia ini banyak terdapat berbagai macam bahasa! Sehingga hati mereka tidak tertutup terus, nanti kalau tertutup terus lama-lama hati mereka bisa jadi burdukan lho! Hehehe...!! Bukankah Islam juga mengajarkan toleransi dan menerima kenyataan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dengan berbagai macam kebudayaan termasuk bahasanya??

Wassalamu 'alaikum wr wb

Thursday, June 28, 2007

Celebrating a year in room 13

It was June 21, 2006 and everyone was frenzied by the World Cup in Germany. I was waiting for a world cup match, I have forgotten which match it was, but the match was played at the small hours of the day. To fight the drowsiness that had begun engulfing me, I turned on my pc and started looking for a chat online. It was my serious search for a chat since three years before, after I decided to leave my regular room at mIRC for good since my favourite room was closed down. I remembered at that time that my friend told me that I should try YM or IM. But my choice fell to YM. Soon after I successfully downloaded the thing, I installed it in a snap. Then I began to search for a suitable room. At that time I didn't have any specific stop where I must chat, but voila there came an idea that I should choose the number 13 somewhere! Being a Muslim (though I have never admitted that I am a good Muslim), I came to decide that I would single out room 13 of Islamic chat. As I managed to enter the room, I saw people having so many in-group conversations. I encouraged myself to butt in within a conversation and I was a bit surprisingly greeted and answered very well in the conversation. In no time, the conversation flowed smoothly and friendly but I don't remember with whom exactly I had the conversation with. But after that chat session, I began to rediscover my affection towards online chatting!

A few days later I began to identify some monikers in the room. Sis Gaia, bro pat, bro knoppix, sis dee are my fellow countrymen/countrywomen whom first I knew. Sis frag is a Malaysian who once rejected my moniker 'kingtut_di_celana', and sis loretta_edinger, a Texan woman who is married to an Iranian but claimed to remain catholic with a trait of atheism, johngvanvliet, a Canadian evangelist, were also the first persons whom I met in the room.I still remember the first time I chatted with (the old) sis dee, we argued over our former dictator Soeharto, she tried to defend her opinion that we should thank Soeharto to some degree for bringing in prosperity and rapid development in the past, no matter how tyrannical he was. And I stayed with my own opinion that the rapid development introduced by Soeharto in the past was merely based on his own self-indulgence, to nourish his nepotism and his own entourage. But fortunately the arguing dialogue did not grow into a hostile face-off. I think back of bro knoppix too, whenever he was asked about his location, he always came up with the answer 'Cape Town'. It seemed that he was reluctant to let us know where he is. But eventually we managed to know that he lives in the same city with me! The reason behind this attitude remains unclear until now, showing lack of esteem on his own root! I also do remember him when he talked in many languages with people with various languages. Initially I presupposed that he had the capability of speaking many languages, but soon I found out that he could not speak those languages beyond some simple phrases!! And Bro pat, the one with a thousand monikers, often tricked the people with his unprecedented IDs, and so many more chatters whom I know with his/her own characteristics!

Now a year later after I first joined the room, I have had many regulars to chat with whom I know through the room 13. But the room itself is becoming disagreeable since the bots and the booters overpopulated the room. I actually don't care about the room, what I should care is to maintain the friendships that have long been nourished since the day one of my presence in the room!

Wassalamu alaikum wr wb

Wednesday, June 27, 2007

Blogku yang semakin tidak Islami !!

Ketika pertama kali blog ini dibuat, sebenarnya saya sudah mempunyai 3 buah blog, yaitu masing-masing di freewebs, ifrance dan satu lagi juga ada di Blogger ini. Namun ketiga blog tersebut terus terang saja isinya kurang terorganisir dan isinya sangat tidak Islami. Isinya adalah gado-gado antara foto-foto pribadi, pengalaman pribadi, dan ada juga ehmmm cerita-cerita pendek karanganku sendiri yang terkadang 'ngeres' yang rasa-rasanya kurang pantas ditunjukkan kepada sister-sister yg 'alim-alim' di room 13 Yahoo!. (Cerita 'ngeres'nya 200% gombal abis!!). Nah untuk itu saya membuat blog ini dengan harapan blog ini akan menjadi lebih baik dan lebih Islami daripada ketiga blog saya sebelumnya. Namun apa jadinya blog ini setelah tiga bulan berjalan?? Ternyata semakin jauh panggang dari api! (eh bener ya pribahasanya?), meskipun blog saya yg satu ini masih jauh lebih baik (sopan) dibandingkan ketiga blog saya sebelumnya.

Lantas apa tanggapan saya sendiri mengenai blog saya ini setelah mengetahui blog saya menjadi tidak Islami?? Sejujurnya, EGP !! alias: Emang Gue Pikirin!! Kalau ada kontest blog paling tidak Islami bagi para chatter Indonesia + Malaysia di room 13, tentu saya sudah jadi juara pertamanya! Dan jikalau ada tropi/penghargaan blog yang tidak Islami bagi para chatter room 13, pasti tropi tersebut sudah saya terima dengan... PERASAAN BANGGA !! Lho? Bangga karena kurang Islami? Tentu saja bukan!! Bangga karena saya berhasil menjadi saya apa adanya! Tanpa kemunafikan dan tanpa kepura-puraan! (Tentu saja yang berhak menilai secara absolut hal tersebut hanyalah Allah swt). Saya menyadari bahwa saya kurang pandai dalam ilmu agama dan saya tidak akan menutup-nutupi hal tersebut. Sayapun menyadari bahwa saya tidak akan menutupi 'kelemahan' saya ini memenuhi blog saya dengan copy-paste baik itu berupa tulisan-tulisan ataupun gambar-gambar islami apapun. Saya memang tidak suka membaca blog yang isinya hanya tulisan-tulisan dan gambar-gambar 'bajakan' (kecuali gambar/foto karya sendiri) dari sana sini. Menurut saya blog semacam itu hanyalah sampah! Andaikan saya harus mengcopy-paste bahan dari luar, tentu pertama saya akan sebutkan sumbernya dan kedua tentu akan saya hiasi copy-paste tersebut dengan opini saya sendiri, meskipun opini saya mungkin tidak terlalu bagus! Lho, copy-paste kan penting juga untuk share sesuatu yang baik-baik?? Dan juga share yang baik2 itu perlu juga disiarkan tanpa memandang apakah itu 'bajakan' atau bukan?? Tidak salah juga prinsip seperti itu! Namun sebaiknya kita juga menghargai/mempertimbangkan juga prinsip-prinsip yang lain! Pertama hargailah karya orang lain dan kedua janganlah 'menipu' pembaca-pembaca lain seolah-olah ia adalah orang yang 'pintar' dalam beragama atau dalam hal apapun (padahal kesehariannya??). Andaikan ingin menyebarkan kebaikan, ya tinggal ditulis saja link ke page tersebut! Saya tidak butuh copy-paste-nya, dan anda juga tak perlu capek2 copy-paste kan?? Wah, andaikan blog saya penuh dengan copy-paste, mungkin blog saya akan berubah dari penerima tropi blog paling tidak Islami, menjadi blog yang paling Islami !! Tapi saya tidak bisa begitu! Saya tidak pernah mau menutup2i kemampuan saya sendiri! Toh juga kemampuan kita akan tercermin juga dari perbuatan kita sehari2 atau paling tidak, minimal dari chatting sehari-hari, mana-mana yang sama sekali bodoh, mana2 yang hanya pintar mengaji tapi tidak tahu apa yang dibaca, mana yang berakhlak dan pintar mengaji, Mana yang cuma pintar beakhlak tapi tak bisa mengaji, dll. Yah, masing-masing menilai sendiri2 deh!

Ok. Sepertinya kalau saya menulis terus, temanya bisa berkembang luas deh. Untuk itu sementara saya akhiri dulu sampai di sini. Lagian saya juga sudah capek mengetik.

Wassalamu 'alaikum wr wb.

Sunday, June 24, 2007

Wimbledon is coming......!!

Wimbledon is already around the corner! I always wait for this tourney each year. This is the pinnacle of the whole tennis tournaments. I don't know why Wimbledon is considered the 'best' tournament amongst any other Grand slams, maybe because it is the oldest Grand Slam which go back as early as 1877. In this year's tournament, in the gentlemen's section, Roger Federer will grab the title for the 5th time in a row. While Rafael Nadal and Andy Roddick will vie for the other spot in the final. In the ladies' section the title is still open equally for Maria Sharapova, Amélie Mauresmo and Justine Henin with the Wiiliams sisters are lurking to seize a spot in the final.

Well I don't want to write a prolix posting for this matter. Let's see who will bring the trophies home. And for the next two weeks I think I will stick my butt on my sofa like a couch potato to enjoy the live coverage of Wimbledon!

Tuesday, June 19, 2007

Satpam vs Sarjana Komputer

Pada saat posting ini dibuat, saya tengah 'perang blog' dengan sepasang suami istri. Si suami dan si istri itu masing-masing mempunyai blog sendiri-sendiri, kedua-duanya adalah sarjana ilmu komputer dari UGM. Si suami bekerja sebagai Auditor Sistem Informasi di firma Ernst & Young sementara si istri bekerja sebagai Database Administrator di Jakarta (perusahaannya tidak dia sebutkan, egp!). Awal mula kejadiannya entah bagaimana, tetapi yg saya analisa mungkin berasal dari komentar saya di sebuah blog (bukan di blog milik salah satu suami istri tersebut). Topik yg saya komentari mengenai "Presentasi dalam bahasa Inggris". Dan saya berkomentar di posting tersebut begini: "Bahasa Inggris memang penting tapi bukan yang paling penting, jika anda mempunyai skill yg sangat baik, maka anda mungkin tak perlu berbahasa Inggris dng baik. Sebaliknya jika skill/prestasi anda hanya sebatas di atas kertas ijazah saja, maka bahasa Inggris dpt membantu baik dalam karir ataupun pergaulan. Karena saya melihat banyak sekali sarjana2 Indonesia yg sudah prestasi/skill-nya cuma sebatas di atas kertas ijazah saja, bahasa Inggrisnya kacau pula!".

Nah, mungkin awal pertempuran 'blog'nya mulai dari situ! Sebenarnya di antara kita bertiga, masing-masing sudah saling membaca isi blog masing2 sejak agak lama. Meskipun mereka tidak pernah meninggalkan komentar di blog saya (blog yang di ifrance.com) dan sayapun hanya sekali meninggalkan komentar di blog sang suami. Nah entah kenapa, mungkin karena tersinggung dengan komentar saya di atas karena mungkin mereka kurang pandai berbahasa Inggris (kok agak norak ya!, komentar begitu aja tersinggung!), sang suami lalu membuat sebuah posting yg berjudul "Apakah keselamatan kita hanya dijamin oleh satpam yg hanya digaji Rp. 600 ribu". Nah di situ ia menulis mengenai kebobrokan kerja para satpam, dan ia juga menulis bahwa di real estate tempat dia tinggal, satpamnya masih bekerja tidak becus padahal iurannya sudah naik. Dan puncaknya ia menyinggung bahwa di Bandung ada seorang security yang mahir berbahasa Inggris yang dibayar mahal oleh orang asing namun katanya belum tentu performansinya lebih baik dari security yang dibayar kecil!

Sebagai orang yg bekerja di bidang security (mereka tahu itu), saya curiga bahwa tulisan itu mungkin untuk menyindir saya balik namun saya masih berperasangka baik pada awalnya, "Ah mungkin itu belum tentu untuk saya sindirannya". Nah untuk mengetahui apakah itu menyindir saya atau bukan, saya balik membuat posting yg temanya cukup provokatif yaitu "Perlukah sekolah sampai sarjana hanya untuk belajar ilmu komputer?" Di sini saya menyindir mengenai kemampuan2 banyak (meski nggak semuanya) sarjana2 komputer Indonesia yg kemampuannya nggak lebih dari ahli komputer lulusan kursus/lembaga pendidikan komputer (LPK)! Hal itu didukung dengan pengamatan saya yg banyak menemukan mahasiswa2 informatika ITB yg kos dekat2 rumah saya yang kemampuan teknis komputernya nggak jago2 amat! Bahkan ada yg nggak bisa merakit komputer sendiri!! Mereka hanya tahu berbicara masalah filosofis-filosofis sebuah sistem (tanpa mengetahui bentuk konkrit dari sistem itu sendiri), namun kemampuan teknis mereka tidak beda jauh dengan yang lulusan LPK. Mereka suka berdalih bahwa para lulusan informatika bukan lagi dituntut sebagai programmer atau perakit komputer tetapi banyak sebagai pembuat sistem dan penganalis sistem! Wah, sungguh alasan yang sangat filosofis! Mereka nggak tahu bahwa sayapun sebenarnya pembuat sistem, yaitu sistem sekuriti mulai dari letak CCTV, sistem penerimaan tamu, training para satpam, menghitung jumlah optimal satpam yg dibutuhkan untuk sebuah gedung dalam satu shift, bahkan hingga sistem absensi para sekuriti yg melibatkan teknologi canggih seperti komputer, scanner sidik jari, dsb! Hihihihi.... sama-sama sistem kan?? Emangnya cuma dia aja yang bisa bikin sistem! Hehehe....

Nah rupanya umpan yang saya buat itu mengena! Si istri (berjilbab pula! Tapi tidak pengaruh, mau jilbab atau tank-top, kalau mau perang blog ya silahkan kita 'sikat' aja!! hehehe...) meninggalkan komentar di posting saya yg tak ada hubungannya dengan artikel saya tersebut. Ia bercerita bahwa di tempat real estate budenya satpam penjaga gerbang malah berteman dengan preman yang kadang-kadang memeras budenya. Nggak tahu benar apa nggak. Tapi yang jelas saya balas meninggalkan komentar di blog sang suami dengan komentar begini: "Kalau seseorang tidak percaya bahwa jikalau kenaikan iuran keamanan tidak menjamin para satpam bekerja lebih baik, itu juga sama dengan menyewa seorang programmer komputer! Semakin tinggi sewa seorang programmer, belum tentu kinerja sang programmer menjadi lebih baik! Belum tentu program yang dibikinnya akan lebih bebas dari 'bug' atau 'glitch' ", ya nggak?? Hehehehe.... simpel aja deh logikanya tapi mengena! :D

Nah, pertempuran untuk sementara sampai di situ. Mungkin perang blog ini akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan! Mungkin besok2 si suami atau si istri akan membalas dengan membikin komentar di blog saya ataupun akan membuat posting baru yang menyerang saya. EGP!, mau perang blog?? Saya siap melayani......!! hehehehe

Wassalamu alaikum wr wb

Friday, June 15, 2007

Showy Corner, Shabby Toilet!

This afternoon after returning from the mosque, one of my officemate came to my house to claim the souvenirs I brought from Spain. LOL. Actually he was on the way to the campus to return some books to the library. Yes he is still in his graduate study to get his MSc title from ITB. After we had a fun and pointless chitchat, he asked me to accompany him to the library and he wanted to show the new Internet quarter that has been recently built to enhance the information system quality in the one of the most respected libraries in the city. Well, being interested in so many things (especially ones that are associated with information technology), I could not turn down his offer. So in no time we had already hit the road to head for the library in his campus.

Soon after we arrived there, I could see a library with the luxurious building (much of extravagant one!) with modern architechture though it also comes with some tacky touches in some way. As we entered the door I began to sense murky atmosphere in the library. The front hall is dim, not enough light to cheer up the readers and the visitors. But as I stepped onto the next door to enter the main hall, the illumination is much better and I could see a long bar with some people behind it, it seems that it is where the people deal with the paperworks when they want to borrow or return the books. So my friend went there and he told me to look around, and he asked me to try the net connection at the new Internet corner. Well I was in no mood to try the net connection, but I was curious to know what to offer from the leading library in the town. So I began my observation with the Internet corner, I walked into the quarter and I could see a modern facility of the Internet connection with all LCD displays ready to take you to the virtual world. The quarter itself is clean and completely in order. Then suddenly another corner in the library caught my attention. It says right there 'American Corner'! Wow what is it all about, the American Corner?? Then I paced to the corner, it was dark inside! I could only see desks and cabinets but nobody was there and the quarter itself was locked! Wow... what does an American Corner do in this library? What does it offer?? It would have seemed very interesting if there were some activities inside, but too bad the showy corner was apparently inactive. Soon after I lost interest with the showy American Corner, I began to feel the full bladder inside me and I thought I had to empty it up. So I searched for a toilet and I saw stairs that lead to the toilet. The toilet's door was ajar, and I tried to open it.. wow it seemed that the hinge was already rusty, it's hard to open it and whenever I exerted my strength to open the door, the door always reacted with a squeaking noise! With the hard efforts, I eventually managed to open the door, but alas what did I see??? I saw a very dirty and forlorn toilet, it stinks worse than my dog's kennel and when I checked there was no water running in the toilet! Gosh! Is this all a leading library can offer?? Showy corners and a shabby toilet?? Well I can't explain anymore, You should see yourself! Adios!

Wassalamu alaikum wr wb.

Thursday, April 26, 2007

Bahasa Sunda vs. Mentalitas Sunda

Bagi orang Sunda yang membaca judul di atas, jangan naik darah dulu! Tidak ada maksud saya untuk menulis sesuatu yang SARA di sini karena SARA bukanlah sifat dari saya, namun kalau memang anda menilai bahwa artikel ini ada bau-bau SARA-nya itu mungkin karena saya memang suka mengeritik dengan pedas, bahkan terkadang sangat pedas! Oke, sebelum berkomentar sebaiknya baca dulu artikel ini sampai habis.

Ceritanya begini, sekitar 7 - 8 tahun yang lalu, saya merasa sangat geli ketika membaca sebuah iklan mini (classified) di sebuah surat kabar tentang sebuah lowongan kerja. Di sana ditulis bahwa syarat utama agar diterima bekerja adalah dapat berbahasa Mandarin! Padahal lowongan yang ditawarkan tidak ada hubungannya dengan bahasa atau penterjemah! Saya berfikir coba bayangkan andaikata semua perusahaan asing mewajibkan karyawannya untuk berbahasa ibu mereka, seperti Panasonic dan Sony misalnya, mewajibkan karyawannya untuk berbahsa Jepang, Peugeot dan Alcatel harus berbahasa Perancis, lantas Siemens AG dan BMW harus berbahasa Jerman misalnya, tentu akan menjadi sangat repot dan menggelikan! Trend zaman sekarang jika anda ingin berinvestasi ke luar negeri, beradaptasilah dengan budaya setempat atau minimal kuasai bahasa setempat, atau kalau otak tidak mampu ya kuasailah bahasa Inggris. Jangan memaksakan membawa-bawa bahasa ibu ke negeri orang! Sungguh menggelikan! Orang kaya kok agak bego ya, sayang! Namun ada lagi yang membuat saya geli. Kali ini dari iklan banner di kota Bandung yang mewajibkan karyawan Pemda di lingkungan kabupaten Bandung untuk dapat berbahasa Sunda! Lho!? Kenapa geli?? Bukannya seharusnya begitu?? Toh... mereka adalah aparat yang melayani masyarakat Pasundan, dan Kabupaten Bandung itu terletak di tanah Pasundan! Oke, saya kasih tahu! Pertama di zaman keterbukaan ini tentu banyak masyarakat yang tinggal di kabupaten Bandung bukan hanya masyarakat asli Pasundan, mereka mungkin berasal dari seluruh pelosok di tanah air ini, juga terdapat WNA yang tinggal di kabupaten Bandung. Kedua masyarakat di kabupaten Bandung ini tentunya sudah banyak yang dapat berbahasa Indonesia, toh selama ini kita punya Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan persatuan, jadi dalam segi bahasa sebenarnya tidak ada masalah. Ketiga potensi suatu karyawan jangan dilihat dari sudut bahasa saja! Mungkin saja dia tidak dapat berbahasa Sunda namun ia bisa memberikan sesuatu yang lebih bagi pemda setempat. Alangkah ruginya jikalau sampai menolak potensi yang ada hanya karena bermasalah dalam berbahasa Sunda. Jadi menurut saya, tidak perlulah dibuat peraturan aneh-aneh seperti itu, kalau mau buat peraturan aneh-aneh sekalian saja, suruh masyarakat setempat wajib menguasai bahasa Sunda termasuk WNA-nya sekalian! Kalau tidak bisa silahkan hengkang dari (kabupaten) Bandung! Atau dalam skala nasional, bikin peraturan aneh juga, yang tidak bisa berbahasa Indonesia, tidak boleh jadi WNI !! Jadi orang-orang kampung di pedalaman yang nggak bisa berbahasa Indonesia tidak boleh jadi WNI! Gimana?? menggelikan?? Tentu saja!

Sebenarnya saya sangat setuju sekali untuk melestarikan dan mengangkat bahasa Sunda agar jangan sampai dilupakan. Karena kepunahan suatu bahasa adalah sesuatu yang sangat merugikan. Namun untuk mengangkat citra suatu bahasa, harus dengan cara yang layak dan alami, bukan dengan suatu 'pemaksaan' yang menggelikan! Saya masih melihat kemunafikan dari masyarakat kita (dalam kasus ini masyarakat Sunda) dalam menghargai bahasanya sendiri. Di suatu sisi masyarakat Sunda ingin bahasanya diakui namun di sisi lain, apalagi kalau di luar masyarakatnya, banyak orang-orang Sunda yang 'malu' akan bahasanya sendiri. Ya, ini menyangkut masalah mentalitas! Contoh, sederhana!, banyak masyarakat Bandung (Sunda) yang bangga dengan istilah "Paris van Java" untuk kota Bandung. Sampai-sampai ada mal dan stasiun TV lokal (PJTV) yang menggunakan istilah tersebut! Dasar kita, maunya ikut-ikutan aja tapi tidak tahu ejaan yang benar! Seharusnya: Parijs van Java bukan Paris van Java. Udah ikut-ikutan, salah pula! Kenapa orang Bandung sangat bangga dengan istilah "Parijs van Java"? Itu karena ada kata "Parijs"-nya, yang melambangkan keindahan kota Paris yang nun jauh di seberang! Jadi yang 'dibanggakan' orang Bandung dengan istilah 'Parijs van Java' bukan kota Bandung-nya sendiri tapi kota Paris yang sama sekali tak ada hubungannya dengan tanah Pasundan! Ampun deh! Istilah peninggalan kolonial kok masih dipakai-pakai! Apa tidak bisa menciptakan istilah lain yang lebih menyunda??? Mungkin orang Sunda sendiri berfikir kalau menciptakan istilah pakai bahasa Sunda sendiri pasti kurang keren, nggak funky! Dasar mentalitas kita! O iya, terus terang saya sendiri sebenarnya seseorang yang agak Francophile yang agak 'tergila-gila' dengan sesuatu yang berbau Perancis! Rendahkah mentalitas saya?? Wah itu sih silahkan anda menilai sendiri, bebas kok! Tetapi yang jelas saya hanya meniru yang positif-positif dan berguna saja seperti belajar bahasanya dan juga mentalitas-mentalitas positif orang Perancis yang 'wajib' saya tiru! Tidak akan saya menamai anak-anak saya dengan nama Perancis seperti: Pierre, Jean, Henri, Guillaume, dan lain-lainnya. Jangankan anak-anak saya, kucing-kucing dan anjing saya aja tidak ada yang dinamai pakai nama Perancis! Hahahaha...!! Saya sangat menghargai Perancis karena negeri yang relatif kecil itu (bandingkan dengan negeri kita) telah banyak menyumbang banyak bagi peradaban dan kesejahteraan umat manusia di bumi ini. Negeri itu telah melahirkan nama-nama seperti: Louis Pasteur, Antoine Lavoisier, Pierre Currie beserta istrinya Marie Curie (yang ini orang Polandia, tapi kalau ia tidak pergi ke Perancis mungkin namanya tidak akan pernah terdengar!), Louis de Broglie, dan lain-lain. Perancis juga tempat lahirnya metric system sebuah sistem pengukuran fisik seperti meter, gram dan lain sebagainya yang digunakan luas di seluruh dunia dan juga sebagai sistem pengukuran resmi di dunia sains dan keteknikan. Perancis juga tempat lahirnya sistem kepolisian modern di dunia ini. Bukan itu saja... dua event olahraga paling populer di dunia ini, dua-duanya diprakarsai oleh orang Perancis. Piala Dunia (Coupe du Monde) sepakbola diprakarsai oleh orang Perancis, Jules Rimet. Sedangkan olimpiade, walaupun olimpiade berasal dari Yunani, tetapi olimpiade modern dipelopori juga oleh orang Perancis yang bernama Baron Pierre de Coubertin! Terlebih lagi Perancis saat ini merupakan tempat di Eropa Barat yang paling subur umat Islamnya. Demokrasi dan persamaan hak dan toleransi yang berkembang dengan baik di Perancis (tentu saja tidak ada sistem yang sempurna, masih ada kekurangan di sana sini), telah memungkinkan umat Islam untuk beremigrasi ke Perancis dan mendapatkan kehidupan yang layak dan tenang di negeri itu serta diberi jaminan melakukan kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinan agama masing-masing, dalam hal ini Islam. Pokoknya banyak catatan panjang yang membuat saya sangat menghargai negeri yang juga disebut L'Hexagone ini karena bentuk fisik negaranya yang secara kasar mirip segi enam ini.

Kita kembali ke masalah mentalitas kita ini. Pokoknya banyak sekali contohnya di sekitar kita di mana orang-orang Sunda sendiri secara tidak langsung tidak menghargai bahasanya sendiri. Banyak event-event akbar yang digelar di Bandung diberi judul pakai bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya. Belum lagi yang kita temukan di mal-mal, papan reklame, dsb. Tentu anda dengan mudah dapat mencarinya sendiri! Saya sendiri, meskipun sudah terbiasa berbahasa Inggris, namun saya masih ingin menulis blog saya memakai bahasa Indonesia. Sebenarnya saya ingin sekali menulis seluruh posting saya dalam bahasa Inggris, namun akhirnya saya memutuskan untuk memakai bahasa Inggris dan Indonesia berselang-seling. Ini bentuk apresiasi saya kepada bahasa nasional kita.

Memang sulit bagi kita di zaman keterbukaan ini untuk tidak dapat berbahasa Inggris (asing). Dan saya sadar bahwa bahasa Sunda (dan bahasa-bahasa daerah lainnya) tidak hanya bersaing dengan Bahasa Indonesia tetapi juga harus bersaing dengan bahasa-bahasa asing seperti bahasa Inggris, Mandarin, Jepang, Perancis dan lain-lain, bahasa-bahasa tersebut dengan mudah dapat menarik simpati orang-orang di negeri ini, terutama karena prestasi bangsa-bangsa penutur bahasa-bahasa tersebut memang menyilaukan. Tetapi saya yakin jikalau memang bahasa Sunda menjadi punah itu bukan karena semata-mata serbuan bahasa-bahasa asing tersebut, tetapi lebih karena mentalitas orang-orang Sunda itu sendiri. Dan skenario seperti itu tentu saja bukan hanya berlaku bagi bahasa Sunda saja, tetapi juga berlaku bagi bahasa-bahasa lainnya di negeri ini bahkan mungkin juga berlaku bagi bahasa Indonesia yang kita cintai ini.

Wassalamu 'alaikum wr. wb.

Wednesday, April 25, 2007

Contact


If you have ever watched the movie 'Contact' which poster is displayed on the left, you would know that the screenplay of the movie is about the humankind seeking the companionship across the vast universe. Although in the play, the pretty young woman scientist (starred by Jodie Foster) successfully received the replying pulsating signal from a far-off solar system, in reality the case is not true, or at least not yet true. Scientists, astronomers, exobiologists(?) are still working hard around the clock to spot any colonies of intelligent extra-terresterials!, if there is any!
Apart from the sci-fi movie you watched, do you believe in the existence of other races out there somewhere in the vast space? For me personally I don't know the answer yet. This issue itself still confuses me very much. Besides only a little fraction of the vast space that has already been scanned by our scientists. Consider that the scanning proccess of the space began only 50 years ago, it means that the part of the space that has been completely scanned is only up to the approximate circumference of 300,000 x 60 x 60 x 24 x 365 x 50 = 567,648,000,000,000 kilometers away from the earth. According to scientists that the edge of our universe is about 5 billion light years away ( I don't dare to translate it into kilometers since my calculator will not be able to accomodate to this extrahuge number!! hehehe...). It means that the part of the space that yet to be scanned is as far as (5,000,000,000 - 50) light years away to go! Whew! What a number!
In other words, with the present technology we are using now, we have to wait for 4,999,999,950 more years to completely finish scanning our universe, and to know whether there are advanced civilisations or not within this vast universe! Or are we completely a lone species in this huge universe?? Are we really unique? Those questions before-mentioned also lead to other questions: If there are some far more advanced civilisations residing somewhere far-off in distant galaxies, with modern technologies in hand, with ultramodern telecommunication system and starships that can zap near the speed of light, why don't they try to do the same which means to contact us? why don't their ultramodern spaceships flock to visit our blue planet?? Are they not interested in searching for other civilisations in the benefit of mutual knowledge sharing?? Or perhaps we are too primitive for them to draw their attention to us! Heck! Who knows??
Ok. Let's forget about those questions above. I would like to correlate the existence of superior aliens in the outer space with the religion (Islam) I learnt in school. I remember when I was in school, I was told by my religion teacher that human is the most perfect being amongst other beings. If there are more 'superior' aliens with more 'superior' intelligent somewehre in the distant, then where is the perfectness of the human beings? Even though I understand that perfectness is not always attributable to intelligence. Perfectness also covers a great variety of dimensions. But intelligence I think is the most profound dimension that a species owns concerning perfectness. As we see, that that superior intelligence of the human beings on this planet that makes homo sapiens so unique, so powerful, and they take the greatest role in shaping our planet! This powerful weapon of intelligence make our species survive through the test of time! With our intelligence too, other species with mammoth bodies, or with sharper claws and fangs, or the ones with deadly venoms cannot destroy us!
Now can any of you, my bros and sisters in faith, come with a good answer concerning the existence of aliens and our superiority? I would like to hear from you. Ok. I think that's all for today.
Wassalamu 'alaikum wr wb.

Tuesday, April 10, 2007

Optical Illusions

As I run out of a topic today, I would like to present something else for you. This is all about optical illusions. I have been always enjoying optical illusions since the first time my dad bought a book on it when I was a kid. I hope you will enjoy the illusions that are playing tricks on your eyes and your brain!

1. THE PINK DOT
To make this illusion work for you, you have to click this picture below to make the picture animating. Then you have to follow these steps: First, you have to follow the movement of the encircling pink dots for a while (for about ten seconds). Second, now stare at the sign '+' at the centre. Keep staring at it! After a while you will see a green dot moving around the '+' sign. That's it. 2. NONE IS THE BIGGER
Now look at the dots in the centre of each group! It will leave an impression on you that the central dot at the right group is bigger than the one in the left! Well, it's wrong! Both of the circles' diameters are of the same length!
3. HORIZONTAL VS VERTICAL
Those zig-zagging thicker vertical lines are trying to fool you optically. Those thicker vertical lines are very dominant that they give you a false impression that the horizontal lines are also zig-zagging or sloping. Well, again it's wrong, those horizontal lines are completely straight! Check it yourself!


4. THE SHRINKING GREY SHADE
Now keep staring at the black dot at the centre. After a while the grey shade around the dot will appear to shrink until it 'almost' disappears. That's because as you focus on the central dot, your brain starts to ignore the image of the surrounding! As your focus is away from the central dot, the grey shade will reappear in no time.



5. THE COLOUR
Now try to say the COLOUR loud and fast! Don't say the word but say the COLOUR! I wonder how well you can do it. If you are 'educated' you will find difficulty to do it but if you are an illiterate or if you are a non-Roman-alphabet reader you will find it easy to do. Now if I replace the words with the ones in French or Swedish, can you do it better? For me, if those words are written in Arabic, I can do it very well since I don't know Arabic much. Hehehe....


Ok folks, I hope you enjoy the optical illusions above. That's all for now.
Wassalamu 'alaikum wr wb.



Sunday, April 8, 2007

Batas antara mengambil laba yang tinggi dan menipu



Sejak kira-kira 10 tahun yang lalu, saya ini adalah seorang 'kolektor' jam tangan. Tapi bukan jam tangan yang kelas tinggi sih, tapi jam tangan yang kelas menengah saja. Arloji-arloji (jam tangan) saya kebanyakan adalah merk Casio, Timex, Yema, Seiko, Citizen dan Swatch (yang asli dari counter-nya lho, bukan yang palsu) yang harganya antara Rp.250.000,- hingga Rp. 2 juta,-. Kalau beli yang harganya lebih dari Rp. 2 juta,- masih belum mampu hehehehe... jadi harap maklum. Mungkin satu-satunya arloji saya yang mungkin termasuk mewah adalah arloji Tissot-T-Touch Titanium yang seperti gambar di sebelah ini, pemberian (lagi-lagi pemberian) boss saya sewaktu saya berulang tahun Agustus 2006 lalu. Jam ini juga sekaligus menjadi jam kesayangan saya. Waktu itu sekali saya pernah iseng-iseng cek harga ke toko Central Watch di BIP, harganya cukup mencengangkan buat saya yaitu sekitar US$1425 atau sekitar Rp. 14 juta,-. Kalau saya sendiri sih untuk sekarang ini mana kuat beli jam dengan harga segitu. Jam tangan ini selain berfungsi sebagai penunjuk waktu, bisa juga berfungsi sebagai Thermometer, Barometer, Altimeter dan Kompas dan tentu saja fitur-fitur standarnya seperti alarm, stopwatch, timer dan lain-lain. Tapi saya paling suka adalah fitur kompasnya, jika dia berfungsi sebagai kompas, jarum jamnya dengan luwesnya bisa berubah fungsi menjadi jarum kompas penunjuk arah selain data digital arah yang ditampilkan di layar LCD-nya. Pokoknya sip deh!
O iya, itu bukan topik utama saya kali ini. Itu tadi hanya prelude aja untuk memperpanjang artikel hehehe... tapi sedikit banyak ada hubungannya dengan topik utama. Suatu hari di hari Minggu (saya udah lupa persisnya kapan), saya dan anak saya berkunjung ke masjid Salman ITB melihat pameran buku, sekalian sholat dzuhur dan makan di kantin Salman-nya. Pulangnya saya mampir di pasar Balubur di dekatnya untuk mengganti baterai arloji Timex Sports 1440 saya. Memang ada beberapa kios baik milik pribumi ataupun non-pri yang menjual baterai kancing CR-2032 untuk arloji Timex saya tersebut. Pilihan jatuh kepada kios yang tidak begitu besar milik pribumi. Lalu jam saya serahkan ke si penjaga kios untuk diganti baterainya. Namun dalam hati waktu itu kok ada perasaan nggak enak, lalu bergegas saya bertanya: "Kang, harganya berapa baterainya?" "Rp. 15.000,-, pak". Aku terkejut bukan main. Disangkanya saya nggak pernah beli baterai kancing CR-2032 kali. Di toko langganan saya di pasar Cihapit milik non-pri harga baterai tersebut cuma Rp. 6.000,-. Saya merasa tertipu dan 'ditodong' ingin deh rasanya waktu itu saya marah dan mukul itu orang tapi syukur saya masih bisa mengendalikan diri. Lagipula baterai baru sudah dibuka dari kemasan dan akan dimasukkan ke dalam arloji. Tapi sebagai pelampiasan saya berkata dengan ketus ke si penjaga kios, "Asal tahu aja ya kang, di toko langganan saya di Cihapit baterai kayak gitu cuma Rp. 6.000,-". Si penjaga kios tidak menjawab, rupanya dia merasa bahwa saya tidak mudah 'dikibulin'. Setelah selesai memasukkan baterai, ia menyerahkan jam tersebut kepada saya, namun saya lihat pekerjaannya kurang rapih, terlihat benar pergelangan jamnya tidak masuk benar ke tempatnya. Kesempatan ini saya gunakan untuk sedikit mendamprat dan menyindir dia, "Kang, gimana nih moso pergelangannya belum masuk bener nih, udah mahal nggak rapih lagi kerjaannya" kataku. Si penjaga kios lalu membetulkan pergelangan jamnya dan mengembalikannya ke saya sambil berkata "Udah pak, Rp. 10.000,- aja, tapi jangan marah ya pak!". Saya yang masih agak dongkol langsung membayar dan pergi meninggalkan kios tanpa mengucapkan terima kasih atau apapun!
Sekarang saya ingin bertanya (mudah-mudahan dapat terjawab di dalam e-ta'lim kita nanti hehehe...) bagaimana sih etika bisnis dalam Islam? Apakah 'dibenarkan' dalam Islam untuk mengambil keuntungan setinggi-tingginya? Memang seperti yang pernah saya baca di salah satu kolom tanya jawab di eramuslim.com di sana pernah dikatakan bahwa dalam Islam dalam mengambil keuntungan itu tidak ada batasannya artinya boleh mengambil keuntungan sebesar-besarnya, apakah itu 2x, 3x atau bahkan lebih. Tapi pertanyaannya sekarang adalah apakah dengan pedagang itu mengambil keuntungan yang besar itu dapat disamakan dengan menipu? Ok lah....mungkin jawaban yang lumayan baik adalah, itu tergantung dari niat! Kalau niatnya mengambil keuntungan itu namanya bukan menipu, tapi kalau niatnya menipu itu baru namanya menipu. Ok lah.... tapi bagaimana dari sudut pandang pembeli?? Seperti kasus saya di atas?? Saya benar-benar merasa tertipu terlepas dari niat si penjaga kios! O iya... pertanyaan saya di sini terlepas dari konsep market competition di mana kompetisi di pasar akan cenderung menstabilkan harga pasar. Saya hanya ingin tahu dari sudut pandang Islam. Mudah-mudahan inshallah saya akan mendapatkan jawaban yang baik dan memuaskan. Amin. Jangan sampai ada kesan kok orang-orang Islam dalam berdagang maunya 'menipu' sih.
Wassalamu alaikum wr. wb.

Friday, April 6, 2007

Between the Petronas Towers and the Burj Dubai

The Petronas Towers in KL, Malaysia

Burj Dubai in Dubai, the UAE

If you look at those two pictures above, you would know that those two skyscrapers are the world's tallests. The Petronas Towers (452m) are the past world's tallest building in the world while Burj Dubai (810m) is the future world's tallest building in the planet. Burj Dubai will be completed circa 2008. The world's tallest building today at the time this article is written is Taipei 101 (509m) in Taipei, Taiwan. Actually The Mubarak Tower (1001m) in Kuwait City will be the next tallest building in the world, the only building in the planet that hits the mark of kilometer, but the tower is only still proposed.

As a Muslim, of course, at first if I looked at those two buildings I would be proud of them. Because those two are built in the 'land' of the muslimin. But soon my pride of them began to fade away as the bitter fact came to surface. What was that? It all began when I watched the National Geographic Channel's (NGC's) Mega Structures which tells us about the large or unusual man-made constructions in the world. One of the episodes is about the Petronas Towers in KL, Malaysia. In the episode, the proccess of constructing the towers is revealed completely and in an awesome detail. But as the show rolled on, I became so surprised and a bit disappointed to realise that Petronas Towers are impossible to be completed without the hands of western engineers! The episode has also left strong impression that the toughest jobs of the engineering can only be done by the western engineers with their technologies! I was so saddened then I asked myself "Are there no muslim engineers who can build such huge enormous towers?" "Are we so backward that we cannot build anything big and important in this world?". The case is also true for the Burj Dubai. In the next episodes I found the 'solid' facts through the episodes that those all magnificent and out-of-this-world structures in Dubai like Burj al-Arab, The Palm and The World involving loads of top-notch western know-hows and state-of-the-art western technologies! pitty us!

Well, as I am not an engineer nor a scientist, all I can do is to call upon the bros and the sisters to open a new frontier of jihad! A new frontier of jihad?? Yes let's establish a 'holy war' against our own backwardness! Let us outskill or outdo them in science and technology instead of killing them or killing the innocent people! That would bring Islam to the glory, and any deeds that can bring Islam to the glory could be called Jihad I think. And inshallah, Allah will reward us for doing such jihad. And inshallah if we can bring Islam to the glory, we will also gain respects from all the corners of the world!

That's it for tonight! Wassalamu 'alaikum wr wb


Wednesday, April 4, 2007

Di antara anggota DPR(D) dan Yusril Ihza Mahendra

Melalui artikel ini kembali saya akan meng.....GHIBAH!! Horeeee.... hidup ghibah! Biarin lah meng-ghibah juga, masih lebih baik mengghibah daripada korupsi, dapat duit haram apalagi ditambah munafik! Ya nggak?? Memang kebetulan tema artikel saya kali ini tentang anggota DPR(D) dan juga mantan (atau masih?? nggak tahulah... emang gue pikirin!!) menteri kita Yusril Ihza Mahendra! Wah ada apa tuh dengan mereka? Begini nih.....

Kita tentu telah mendengar akhir-akhir ini lewat media massa bahwa anggota DPR(D) kita mendapat jatah laptop! (Dulu bonus duit telekomunikasi atau apalah sekarang jadi dapat laptop mereka!) Waaah.... asyik dong ya?? Saya juga mau tuh! hehehehe...! Tapi kok aneh ya? Anggota DPR(D) yang notabene kebanyakan orang-orang berduit kok dikasih laptop ya? Apa mereka nggak mampu beli laptop?? Kenapa saya yang 'miskin' kok nggak kebagian ya?? (hehehe... emang siapa yang mau ngasih lu laptop, lagi!!) Eh, salah deh..... saya juga bisa kebagian laptop, tinggal minta boss aja, boss gue sayang kok sama gue...hihihi....Tapi sayang..... saya malu tuh minta sama boss, dikasih aja saya malu kok (walaupun dalam hati mau!) apalagi kalau saya tidak bisa menunjukkan prestasi saya di kantor. Malu deh udah berkumis seperti ini masih minta boss, malu deh gue sama kumis gue hehehehe. Kalau begitu ya udah deh, biarkan saja para anggota DPR(D) itu dapat laptop mudah-mudahan kinerja mereka tambah baik walaupun dari pengalaman yang sudah-sudah (dan cukup sudah!) penambahan-penambahan bonus-bonus yang diberikan kepada para anggota DPR(D) tidak pernah menambah prestasi dan kinerja mereka. Apalagi cuma dikasih laptop tuh! buat apa?? Lha wong rata-rata mereka belum tentu lebih pintar dari saya dalam menggunakan komputer kok. Paling-paling yang mereka gunakan hanya MS-Word dan sedikit MS-Excel, itu juga paling-paling bisanya cuma operasi aritmatika dasar dan juga pengurutan data berdasarkan abjad atau numerik. Paling-paling cuma itu! O iya mungkin ditambah Windows Media Player atau program multimedia player lainnya untuk mendengarkan musik-musik mp3 atau menonton video-video porno! Malah kabarnya di beberapa daerah yang sudah menjalankan program laptop untuk para anggota DPRD ini, laptop-nya udah ada yang rusak! Wah mubazir amat tuh! Daripada membelikan anggota DPRD yang tak berguna itu laptop, mendingan anggarannya dibuat untuk beli komputer untuk sekolah-sekolah tertinggal dan universitas-universitas negeri. Kasihan tuh banyak siswa-siswa atau mahasiswa-mahasiswa yang berprestasi tapi tak mampu beli komputer sehingga harus berdesak-desakkan di rental komputer atau harus pergi ke rumah temannya yang mampu. Kan lumayan tuh?? Hitung-hitung untuk investasi ikut membuat generasi muda yang bermutu untuk masa depan. Eh, omong-omong saya mau dong jadi anggota DPR(D).... enak fasilitasnya banyak...saya jadi iri deh....hihihihihi.... eh tapi nggak bisa ya?? Soalnya benar nggak sih, anggota DPR(D) harus berijazah S1?? Ya udah deh..... saya mau beli ijazah S1 aja dulu..... di UNPAD dijual nggak ya?? Kalau ada mau beli dong! berapa ya kira-kira harganya kalau ada?? hehehehe....

Oke, sekarang kita pindah bahan ghibahan dari para anggota DPR(D) ke Yusril Ihza Mahendra! Saya ingat dulu di akhir tahun 1990an dan awal tahun 2000an, si Yusril ini sering tampil di televisi dan ikut memberi ceramah-ceramah agama di televisi. Dulu saya mengira, wah tipe orang seperti ini nih yang diperlukan oleh negara, muda, cerdas (minimal berpendidikan formal lah... meskipun bahasa Inggrisnya masih bagusan gue!), simpatik (bukan SIMpanse PAkai baTIK lho!) dan kelihatannya ini orang mengerti benar masalah agama! Eh, nggak tahunya sekarang ternyata dia doyan juga sama duit haram! hihihihi.... Menurut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), harta kekayaan si Yusril ini sejak jadi menteri harta kekayaannya membengkak 3 kali lipat jadi sekitar Rp 6 milyar,-. Wow. Menurut rumus matematika yang paling canggihpun dengan gaji seorang menteri nggak akan mungkin hartanya dia akan bertambah sebanyak itu! Apalagi si Yusrilpun ternyata tidak bisa menjawab darimana kebanyakan hartanya itu berasal. Nah lho! KPK mencurigai Yusril jadi tempat 'penampungan' sementara harta dari keluarga Cendana yang berasal dari BNP Paribas di London (kalau nggak salah!). O iya.... kata seorang ibu-ibu muda berjilbab, orang tua dari teman anak saya, yang dari dulu nge-fans banget (atau tepatnya mungkin naksir kali ya, tapi nggak kesampaian hihihihi....) sama si Yusril, memberikan pembenaran dengan alasan sederhana: "Lah, Yusril kan juga manusia!). LHA IYALAH, sama gue juga manusia yang doyannya mengghibah (tapi mengghibah yang kenyataan bukan yang fitnah). Hehehehe.... udah mengghibah bangga lagi ya? Biarin deh... daripada udah korupsi masih cuek pula.... apalagi masih sok suci! Duuuh!

Menurut saya ini adalah kesalahan falsafah hidup orang Indonesia secara tak langsung di mana status sosial masih semata-mata diukur berdasarkan nilai uang yang dimiliki, bukan berdasarkan ukuran dari mana duit itu berasal, atau bukan berdasarkan pekerjaan apa yang ia lakukan. Di Swiss atau Austria, seseorang yang mendapatkan kekayaan dari jalan korupsi dianggap sangat hina betapapun ia kayanya. Dan menurut survey di Jepang dan di AS yang saya pernah baca (tapi lupa di mana), kebanyakan masyarakat menilai seorang dokter jauh lebih terhormat daripada menjadi seorang pengusaha, walaupun mungkin menjadi seorang pengusaha bisa jadi jauh lebih kaya dari seorang dokter. Itu mungkin karena profesi seorang dokter yang dekat dengan penyembuhan orang sakit dan juga kenyataan bahwa menjadi seorang dokter lebih sulit daripada menjadi seorang pengusaha. Dengan modal duit Rp 10 juta,- misalnya mungkin anda sudah bisa menjadi seorang pengusaha tapi dengan duit tersebut belum tentu anda bisa menjadi dokter. Nah, di Indonesia ini status sosial kebanyakan masih dihitung hanya berdasarkan nilai uang yang dimiliki, jadinya ya banyak seperti Yusril-Yusril di negeri ini, yang penting kaya (asal jangan kaya(k) monyet!), nggak penting itu duit halal apa haram!

Ok deh, untuk para sisters dan brothers yang membaca artikel saya ini. Konklusi saya adalah, saya bukannya ingin mengajak sis dan bros untuk mengghibah seperti saya. Ya nggak lah. Bagaimanapun juga perbuatan mengghibah itu sesuatu perbuatan yang negatif dan tentu saja dapat bersifat merusak atau dekonstruktif, tapi saya ingin menunjukkan bahwa banyak hal-hal lain yang jauh lebih merusak dibandingkan dengan sekedar ghibah, seperti korupsi dan munafik! Saya senang jikalau ada dari bro dan sis yang memperingatkan saya kalau saya sedang mengghibah, tapi saya lebih senang lagi kalau tindakan para bro dan sis tidak berhenti sampai di sini. Mudah-mudahan para bro dan sis pun juga berani menegur dan mencegah orang-orang di sekitar bro atau sis yang melakukan 'korupsi' di kantornya walaupun itu kecil-kecilan. Jangan malah ikut-ikutan, malah sampai ikut-ikutan nge-mark-up segala!!! Ok?

Wassalamu'alaikum wr wb.

Tuesday, April 3, 2007

A new moon in a lunar calendar


It was May 2004, in the small hours of the day, I was watching a fabulous tennis match live from Rome, Italy. I remember on the court it was Germany's Tommy Haas taking on the American Andy Roddick. If you know tennis rules, you realise that there is always a break in every other game. That's the time for the TV station to air the commercials! But in one of the breaks, it wasn't the commercials that appeared on the screen, it was something else that's really beautiful. It was a live view of a total lunar eclipse! Unlike a total solar eclipse which always gives a dark image to the solar disk, the lunar disk is not dark during a total lunar phase. The body of the earth that eclipsed the moon will make the lunar disk appear reddish during the total lunar eclipse due to the earthshine effused by the atmosphere of the earth! It was very beautiful! As I watched the picturesque view of the eclipse on the television I again began to admire the creator of the solar system and the universe where our abode of planet earth abides! So I don't want to talk about tennis in this article, but I would really like to write about the moon and the lunar calendar. Again I would have to remind you, that this article is only written by a layman at astronomy for it is not a scientific article.

We realise that a lunar calendar like our Hijri calendar is totally based on the lunation. It means that the Hijri calendar runs in accordance with the orbit of the moon around the earth. The hottest issue in Hijri calendar is how to make sure that a new month has already started or not because unlike the Jewish calendar (which is based on the lunation as well) which every new month has been fixed exactly and mathematically to the certain astronimical event called 'the new moon', the Hijri calendar still depends on the sighting of the 'first moon'. And there are no exact mathematical formulae to fix or to support this event, the only way to spot the first moon is to scan the western horizon of the sky either through unaided eyes or through the optical instruments! The difficulty factor of spotting the first moon is intensified as the sky is overcast or if your sightline is impeded by the city skyline!
Now what is the 'new moon'? And how is it different from the 'first moon'? The new moon is an astronomical event when the moon is located between the sun and the earth. In this phase, the moon is impossible to be viewed from the earth since the dark (unilluminated) disk of the moon is facing the earth, moreover the rise and the set times of the moon are approximately the same as those of the sun's (FYI, each day the moon rises and sets about 50 minutes later than it did in the previous day), making it more difficult (impossible) to spot the moon in the sky at this phase for the sun would outshine the moon. The first moon is a visual event rather than an astronomical event. It is the event when you can spot the moon for the first time in the sky since the new moon. Thus, there is a substantial difference between the new moon and the first moon. Amongst muslim scholars themselves, the decision on when a new month begins is still a controversy. Some scholars agree that the beginning of the new month is signified by the first moon, which has been kept since the time of rasulullah saw. But some other scholars think it otherwise, they agree, with the aid of modern computers, that the new month can be approximated without having to wait for the first moon to appear. They stick to the supposition that each time the moon has passed the line between the sun and the earth, then the new month has also taken place, as simple as that!
Confused?? Hahaha... don't worry you are not alone. Actually this explanation will be a lot easier to be understood if it is supported by illustrations or animations. I do have a Flash animation concerning the lunar phases yet I have difficulties in incorporating it into this article. I have no idea why.... the Flash file was well fed into the system apparently and I met no problems when I inserted the HTML codes but strangely as soon as it started, the Flash files ceased to animate! Well, it is not anybody's fault. Let's forget about it and go back to our main course. For the conclusion of this article I would give you the easiest part to understand, a lunar month will not have more than 30 days nor less than 29 days since the lunar revolution around the earth takes about 29.25 days! It is very simple. See?
Wassalamu alaikum wr wb.

Monday, April 2, 2007

I'm thinking to myself, what kinda blog will it be?

Since I started this blog off, I have been trying to compare what I have written and what I am writing with the peers of others'. This is for me very necessary since my blog will be viewed and reviewed by others especially by my bros and sisters in Islam! So, since the day one of this blog I have been trying to adjust what I am going to write to suit their taste and their determination. And there, I jumped from one blog to another to read between the lines what they like to read. So after visiting many blogs of my fellow bros and sisters, I have a conclusion what they like to read from someone's blog!

In general, all of my blogs I had looked around are very very beautiful and enlightening and soon I began to think to myself: "I should build one like these blogs" firmly and determinately! Soon after, I began to write an article for the blog, and for the first ten sentences it seemed that I found nothing that got in the way. But as the writing rolled on and went beyond the tenth sentence I began to meet a huge stumbling block that prevented me from writing any further. My mind was blank and I felt like a toddler who has to write his first letter! So I didn't know where to go from there. Fortunately apart from the blogging matters, I could still think clearly and rationally so I started to collect my mind, breathed deeply, and eventually thought what had gone wrong with the first ideas I had found earlier. Where were they gone? As I began to successfully relax myself and gained a full control over my mind, I realised why I couldn't carry on with the previous ideas, and why I couldn't start it from their (my bros' and sisters') blogs. Soon afterwards I began to make a list of the whys, do you want to know? Here they are:

1. My faith and my knowledge in Islam is not very good. That's why I think I cannot write something that's very Islamic, unlike the other blogs I had seen.
2. Though I agree that unoriginal postings can be very beautiful and very informative, I personally don't like to write a prefabricated article. If I have to write a prefabricated article inshallah I will try to write it by my own efforts and by my own words, not just simply applying a copy-and-paste stuff in my article! Well, don't take me wrong, it means, I mean, it MEANS that I just don't like to write a prefabricated article, and it doesn't mean that I dislike to read copy-and-paste articles! Yes, I still like to read ready-made articles posted by my bros and sisters somewhere!
3. I am always to be honest to everyone especially to myself even in this virtual world! That's why sometimes I would raise some unusual topics! If you had read my previous articles you would see some of them bring in odd topics! Even in some of articles I didn't hesitate to include 'improper' materials and phrases such as, same-sex love, fornication, etc. in a straight-ahead manner!

Given the points above, to all of my dear sisters and brothers, I would like to apologise if you found something ugly or offensive in my articles, and I can understand if you consider those articles not worth viewing. Again, I would like to be honest to you, I need more criticism to improve my writing in the future. For me, personally and honestly, harsh (but intelligent) criticisms are more welcomed than just phoney compliments! Ok? hehehehe ;))

Wassalamu alaikum wr wb

Friday, March 30, 2007

Roda Kehidupan yang Berputar

Februari 2005,
Waktu itu saya berada di Jakarta di rumah kakak saya di bilangan Cipete untuk masalah keluarga untuk beberapa hari. Untuk mengusir kejenuhan di sore hari, saya putuskan untuk membeli oleh-oleh buat istri dan anak-anak saya di Bandung di supermarket D'Best. Kebetulan rumah kakak saya dan supermarket D'Best Fatmawati hanya berjarak sekitar 300 meter. Jadi saya pikir jarak segitu baguslah untuk berjalan kaki daripada naik mobil! Manja amat sih jarak 300 meter aja harus pakai mobil. Lalu berangkatlah saya ke supermarket D'Best. Setelah kira-kira setengah jam dan saya sudah membeli oleh-oleh buat istri dan anak-anak saya dan bersiap kembali akan pulang ke rumah kakak saya, di trotoar saya bertemu dengan seorang laki-laki tua yang sepantaran ayah saya yang saya kenal, dia, sebut saja (bukan nama sebenarnya), oom Tongki, tetangga saya sewaktu saya masih kecil dulu, sewaktu saya masih tinggal di daerah Dapur Susu (dapsus) dulu. Spontan saya bertanya:
"Lho, oom Tongki kan?" tanya saya.
"Lho, kamu kan........." jawab oom Tongki, rupanya iapun masih ingat sama saya.
"Mau ke mana oom? mau pulang??" Tanyaku.
"Iya... lagi nunggu kendaraan umum" balas oom Tongki.
"Kamu tinggal di mana sekarang?" balas oom Tongki bertanya.
"Rumah mas Bud (kakak saya) di sini, nyeberang Cipete Raya, deket kok cuma 300 meter. Saya sendiri sekarang tinggal dan bekerja di Bandung" jawabku.
"Oom Tongki sekarang tinggal di mana?" balasku bertanya.
"Sekarang saya tinggal di Pamulang" kata oom Tongki.
"Hah??... Jauh amat?? wah oom Tongki biar saya anterin ya?? Saya nggak bawa mobil, saya pulang dulu, yuk oom Tongki, ikut saya yuk ambil mobil dulu di rumah mas Bud" kataku.
"Ah... nggak usah. Terima kasih. Ngerepotin aja" jawab oom Tongki.

Ok kita cut dulu sampai di sini. Sekarang kita kembali ke tahun 1970an! Ya, saya ingat sewaktu saya masih kecil, oom Tongki adalah gambaran keluarga Indonesia yang 'ideal' waktu itu. Bisnisnya sangat maju, relasi bisnisnya membentang dari Singapura, Hongkong, Jepang dan Amerika Serikat! Hampir setiap bulan keluarga oom Tongki ini selalu ke luar negeri untuk bisnis, sementara itu ketika oom Tongki berbisnis, keluarga oom Tongki ini berlibur dan berfoya-foya di luar negeri. Tapi jangan salah lho, oom Tongki ini bukan businessman sukses yang kikir seperti di sinetron-sinetron. Justru oom Tongki yang saya kenal ini orangnya sangat ramah, baik hati, suka menolong dan sangat tenggang rasa terutama dengan para tetangganya. Saya masih ingat betul setiap kali habis pulang dari luar negeri, saya dan kedua kakak saya selalu dibelikan oleh-oleh. Yang paling berkesan adalah oleh-oleh mainan pesawat Concorde yang memakai baterai yang dibeli oom Tongki dari Jepang. Hanya satu saja kekurangan oom Tongki ini, dia nggak pernah shalat apalagi mengaji, berpuasa, dsb. Dan oom Tongki ini senang menenggak minuman keras walaupun saya tidak pernah melihat oom Tongki mabuk-mabukan seperti di sinetron-sinetron murahan. Saya ingat sekali di rumahnya oom Tongki punya bar minuman keras untuk menjamu rekan-rekan bisnisnya.

Oom Tongki mempunyai seorang istri, sebut saja tante Rina. Tante Rina ini juga sebenarnya baik sekali. Setiap kali saya dan kakak-kakak saya bertemu tante Rina di toko Harum dekat rumah kami, tante Rina selalu bersikeras untuk membayarkan apa yang saya dan kakak-kakak saya akan beli.
"Hayo, pada beli apa nih?? Sini tante yang bayarin" begitu kata tante Rina. Tante Rina memang sangat baik, paling sedikit kesan itulah yang ada di mata saya dan kakak-kakak saya. Namun tante Rina punya kebiasaan yang sangat buruk. Ia sedikit hiperseks. Dan rupanya pelayanan dari oom Tongki tidak cukup memuaskan baginya untuk itu tante Rina selalu tidur dari satu lelaki ke lelaki yang lain alias serong abis! (Saya jadi ingat lagu anak-anak 'Potong bebek Angsa... masak di kuali...nona minta dansa.... dansa empat kali... SERONG ke kiri.... SERONG ke kanan... lalalalalalalala....) hehehehe! Dan dari sinilah cerita sedih keluarga oom Tongki dimulai!

Oom Tongki juga mempunyai 3 orang anak. Sebut saya namanya Irawan, Tini dan Tina. Dulu sewaktu saya masih kecil, saya dan kakak-kakak saya sering bermain dengan mas Irawan ini. Mas Irawan ini sebenarnya sepantaran kakak saya, atau kira-kira 5 tahun lebih tua dari saya. Saya waktu itu senang sekali bermain dengan mas Irawan karena mainannya sangat banyak dan mas Irawan tidak pernah pelit untuk meminjamkan mainannya. Suatu hari saya berkata kepada mas Irawan:
"Wah enak ya mas, mainannya banyak sekali" kataku.
"Caranya gampang, pura-pura sakit aja, pasti kalau minta mainan dikasih deh sama papa atau mama" begitu kata mas Irawan.
Ya, namanya aja anak-anak, polos, suatu hari saya ikutin jusurs mas Irawan itu. Eh, bukannya gue dapat mainan, malah gue digampar sama bokap gue! Huahahahahaha...!! Saya dan kakak-kakak saya juga sering menginap di rumah mas Irawan ini terutama kalau malam Minggu. Biasanya kalau saya menginap di rumah mas Irawan, kami tidur di lotengnya yang katanya 'seram'. Pada saat kami hendak tidur, biasanya biar suasana semakin seru dan mencekam biasanya kakak saya dan mas Irawan sering bertukar cerita-cerita horor yang dikarang-karang sendiri!! Hahaha!! Kadang-kadang sehabis bercerita horor seperti itu, kita jadi 'takut' sendiri dan tak jarang kita biasanya (terutama saya!! hehehe....) ramai-ramai sembunyi di kolong tempat tidur atau di balik kasur sambil sedikit berteriak dan sedikit cekakak-cekikik. Pokoknya kita sangat menikmati suasana 'horor' di lotengnya mas Irawan pada waktu itu! Pernah suatu ketika mas Irawan mengeluarkan jimatnya yang katanya ampuh untuk mengusir setan! Dan ternyata jimat itu adalah....... kalung salib yang ada Yesusnya!!! (Lha... kok?? Udah... baca aja terus... namanya juga keluarga Islam abangan! Hehehehe...).
"Ini kayak di film-film, ampuh buat ngusir setan!" kata mas Irawan. Namanya juga anak-anak hehehehe... Itu belum seberapa, ada lagi yang lebih bloon! Suatu malam, mas Irawan meminjam sajadah punya bi Icih (pembantunya), katanya kalau memakai sajadah di kepala, katanya bisa mengusir setan-setan! Hahahaha....
Mas Irawan dan adik-adiknya memang sangat dimanja oleh oom Tongki dan Tante Rina. Apapun yang diinginkan mas Irawan selalu dipenuhi oleh kedua orangtuanya. Hal ini mungkin yang membuat mas Irawan menjadi tidak mandiri dan menjadi 'rusak'. Di Tahun 1980an ketika mas Irawan beranjak dewasa, dunia kita menjadi sangat berbeda, saya dan kakak-kakak saya waktu itu sudah jarang bermain atau bertemu lagi dengan mas Irawan. Apalagi mas Irawan sudah sangat dekat dalam mengkonsumsi obat-obatan terlarang yang pada akhirnya merusak otaknya hingga sekarang!! Ayah saya yang tahun 1980an masih menjadi perwira menengah di kepolisian sudah melarang saya dan kakak-kakak saya untuk bergaul dengan mas Irawan!

Sementara itu, tante Rina, untuk memuaskan hasrat seksualnya, ia tidur dari satu lelaki ke lelaki lainnya. Hotel-hotel, villa di puncak, adalah tempat yang ideal bagi tante Rina untuk melampiaskan hasrat seksualnya! Perbuatan tante Rina bukannya tidak diketahui oleh oom Tongki. Namun karena oom Tongki tidak ingin keluarganya berantakan dan agar jangan tetangga-tetangga mengetahui permasalahan internal keluarga (padahal kita semua sudah tahu dari desas desus pembantu-pembantu rumah tangga, tetapi kita pura-pura tidak tahu demi kebaikan bertetangga!), maka oom Tongki lebih banyak mengalah. Bahkan oom Tongki seringkali 'diperas' oleh tante Rina karena jurus tante Rina untuk memikat laki-laki lain adalah dengan uang atau harta kekayaannya, dan itu semua didapat tentu saja dari hasil kerja keras oom Tongki! Perbuatan tante Rina ini menjadi-jadi sekitar pertengahan tahun 1980an, ketika itu menurut desas-desus pula oom Tongki sudah mengalami setengah impoten!

Mungkin karena permasalahan keluarga yang memburuk, yaitu perselingkuhan tante Rina, ditambah dengan masalah mas Irawan yang ketagihan obat-obat terlarang dan juga adik mas Irawan yaitu si Tini yang juga hamil di luar nikah membuat konsentrasi oom Tongki pada bisnisnya mulai menurun! Sementara uang untuk modal bisnis yang terus dihambur-hamburkan oleh tante Rina dan juga untuk pengobatan dan rehabilitasi mas Irawan yang ternyata dikemudian hari hasilnya 'gagal' membuat bisnis oom Tongki semakin menurun!

Tahun 1992, kami sekeluarga menjual rumah kami di dapsus dan ditambah dengan uang kakak saya, kami semua berpindah ke bilangan Cipete sekarang dan sejak itu saya hampir tidak pernah mendengar kabar tentang keluarga oom Tongki. Tapi menurut pembantu kami yang sudah setia hampir 25 tahun bekerja pada keluarga kami, pembantu kami ini pernah bertemu dengan eks-pembantu oom Tongki di pasar Mede Cilandak. Darinya kita mengetahui bahwa oom Tongki dan tante Rina akhirnya telah bercerai, oom Tongki kini tinggal di Pamulang dan tante Rina tetap di rumahnya di Dapsus. Juga terbetik kabar bahwa kini keduanya telah bangkrut dan menjalani kehidupan sederhana (walaupun tidak miskin-miskin amat lah!). Tante Rina kini hanya bergantung pada usaha catering yang kembang kempis. Sementara itu kita juga mendapatkan kabar bahwa mas Irawan masih jadi pengangguran karena otaknya terganggu rusak oleh obat-obatan terlarang yang pernah dikonsumsinya dulu sehingga ia tidak bisa berkosentrasi pada setiap pekerjaan yang dikerjakannya. Lebih buruk lagi ternyata kalau mas Irawan lagi 'kumat', ia seperti kesetanan dan menghancurkan segala benda-benda yang ada di rumah! Sungguh menyakitkan sekali.

Sampai sore itu, di bulan Februari 2005 di supermarket D'Best Fatmawati. Saya bertemu dengan oom Tongki di trotoar jalan. Setelah oom Tongki menolak dengan halus tawaran saya untuk mengantarkannya pulang dan mengucapkan terima kasih, oom Tongki langsung menaiki metro mini jurusan Blok M. Saya sebenarnya iba melihat oom Tongki yang kini sudah tua itu harus berjejal memasuki metro mini. Namun saya terus terang merasa lega tidak jadi harus mengantarkan oom Tongki ke rumahnya. Sebab tidak terbayang apa yang akan kami perbincangkan di tengah perjalanan! Saya tidak mau membuka luka lama yang akan mengiris-iris hati oom Tongki yang dulu pernah saya kenal baik dan telah banyak memberikan mainan kepada saya di kala saya kecil dahulu.

Wassalamu alaikum wr wb

GUNDAH


GUNDAH!! UUUUUUH!
SDIOIUWRWEHJSHXSGUNDAHWEWYUYKOKSDSNM
ASDYUASDZZZBILANG-BILANGSDFSIHWERLKWKERL
DWERWEHEHEHEHE....WERIOIUIOWERSORRYKOKWZ
QQQQRCLAGIWEWEWLKJKEHABISANWRWOIRWPO
CMKOIUIUIUIDEMLPOQWSDFSJKJHJHJHNIHKOKWER
FGWERWBUKANNYAOPOOIFIDFGNGGAKWEROERERO
NMNMNUYUYUYERBEREMPATIIEORTUERTTAPIKOKRT
GJIUWEMANGWERWUIUEWLAGISDFSDKLKJNGGAKWE
WERWERKJKJKJTAHUKKLKKKAPAWRWERWJKJYANGL
WEREWERHARUSRTRWERDITULISWEROPIOIOIOIWE
SDFDFDSORRYFGFGSDKLKLKUNTUKSDFSDFDYANGOPO
WEREWEREMERASAFSDFUIOIUIUIDIPARODIKANERWE

Saturday, March 24, 2007

Cinta yang tak terbalaskan

"Ya, cinta. Saya mempunyai rasa itu tapi saya tidak berharap kemudian saya dicintai untuk dimiliki. Karena cinta yang ingin terus saya rasakan, adalah cinta seperti ini. Merasakan cinta, itu saja"."Cinta memang untuk dikendalikan dan dirasakan, bukan dibiarkan tumbuh tidak terkendali dan ingin memiliki".

Ini adalah sebuah tulisan dari sebuah novel yang ditulis oleh seorang perwira tinggi di kepolisian Republik Indonesia teman sejawat kakak laki-laki saya. Novel ini bercerita mengenai kehidupan seorang transseksual yang terlahir lahiriah sebagai laki-laki tapi mengklaim mempunyai jiwa seorang wanita. Saya tidak tahu mengapa ia bisa-bisanya menulis cerita seperti ini, secara keseluruhan novel ini sebenarnya sangat biasa-biasa saja, tapi sepenggal paragraf di atas sangat menggelitik saya untuk memberikan komentar (dan selain itu saya orangnya memang sangat gatal, ingin selalu berkomentar tentang apa saja... hehehehe...)

Mungkin tidak semua orang sangat beruntung dalam masalah 'percintaan' mereka. Mungkin karena satu dan lain hal sering kali orang hanya dapat berfantasi menjadi teman dekat atau kekasih orang yang ia cintai, baik ia mengenalnya secara langsung orang tersebut ataupun tidak. Yah, itu namanya cinta bertepuk sebelah tangan! Cinta sesama jenis, cinta yang terhadang jurang sosial dan ekonomi yang terlalu dalam, cinta yang terhadang oleh letak geografis yang sangat jauh, cinta terhadap seseorang yang sudah berkeluarga, dan khusus di negara ini cinta yang terhadang perbedaan agama merupakan contoh-contoh yang baik dari cinta yang bertepuk sebelah tangan!

Saya sendiri pernah mengalami cinta yang bertepuk sebelah tangan dan juga pernah dicintai sebelah tangan pula! Dahulu saya pernah menaksir wanita yang berlainan kepercayaan dengan saya, dan saya sadar saya tidak akan pernah bisa memilikinya karena dia adalah orang yang berpegangan teguh pada agamanya (walaupun saya dengar bahwa Islam memperbolehkan seorang pria Muslim menikahi wanita non-muslim namun orang tuanya tidak akan pernah mengizinkannya!!). Sayapun saat ini juga tengah 'dicintai' oleh boss saya yang 'gay'. Tapi syukurlah ia sangat bijaksana dan mungkin juga menerapkan prinsip seperti sepenggal paragraf di atas yang menyatakan bahwa cinta harus dikendalikan dan tidak dibiarkan tumbuh liar dan cinta bukan berarti harus memiliki. Sayapun mengerti bagaimana sulitnya menerapkan prinsip seperti itu pada awalnya karena memang cinta pada hakikatnya adalah keinginan untuk memiliki! Dan itu sebenarnya adalah sesuatu yang wajar pada koridor-koridor tertentu.

Memang sangat menyakitkan kalau kita merasakan cinta terhadap orang lain namun tidak dapat memilikinya. Karena memang kepemilikan cinta sangat berbeda dengan kepemilikan barang-barang material. Kalau kepemilikan barang-barang material hanya satu arah saja, seperti kalau kita mempunyai sebuah mobil, maka hanya kitalah yang memiliki mobil tersebut, tetapi mobil tersebut tidak memiliki kita. Namun tidaklah demikian dalam kepemilikan cinta terhadap seseorang, kepemilikan harus dua arah, kita harus dapat memiliki orang yang kita cintai dan orang yang kita cintai tersebut juga harus memiliki kita. Dengan begitu maka cinta dapat diwujudkan menjadi sesuatu yang lebih seperti perkawinan, kebersamaan dan lain-lain! Saya sendiri sebenarnya sangat berempati terhadap orang-orang yang tidak bisa 'mendapatkan cinta orang lain' oleh karena sesuatu hal. Kita baru dapat merasakannya jikalau kita mengalaminya! Atau kita baru dapat merasakannya jikalau ada orang-orang yang dekat dengan kita yang juga mengalaminya. Saya sendiri mungkin menulis artikel ini sedikit di luar konteks-konteks Islami, bebaslah anda semua mengkritik tulisan saya ini. Seperti halnya saya bebas mengkritik orang-orang yang 'sok suci' yang seringkali (namun tidak selalu) memandang rendah orang-orang yang mencintai seseorang dengan cara yang 'tidak layak'.

Namun apapun cinta anda, terutama cinta yang bertepuk sebelah tangan, memang ada baiknya kutipan dari novel di atas bahwa cinta sebaiknya dikendalikan dan tidak dibiarkan tumbuh liar! Wassalamu 'alaikum wr wb.

schizo! schizo!

First before you read my posting here I would like to warn you that this posting is not intended to become a scientific article nor it is taken from scientific journals/articles somewhere in the Web! It's merely a matter of personal opinion. What I am going to write here is about (again) people whom I meet online... and a problem they have called 'schizophrenia'. By definition, schizophrenia is almost similar to MULTIPLE PERSONALITY DISORDER, to be shortened as schizo. Schizophrenia is the non-technical term of that MPD. Okay, let's go back now to the core!

But before we start rolling, again I have to apologise if this posting will outgrow the initial purpose to become a little defamatory. But this thought really comes from my heart and I would rather be honest to me and to everybody else than becoming a knavish hypocrite! Once we had a sister who always enjoyed coming into a net room and chatting with all of her good friends. Some of her chat-mates had really become close friends, furthersome another sister in the room had become so close-knit. Until then, one day, as she wrote in her blog, she decided not to return to the net room due to certain reasons that I myself personally don't understand! But if she decides to return again in the future she will pick a new ID that would prevent us, our old friends, to recognise her. For me personally this is a bewildering decision! If she decided not to return for good well that happens on million of people in the net! But if she decided to return again in the future why does she have to pick another ID that will disable us to recognise her?? Were we all her worst nightmare in the past? Nah, that does not even appear at the bottom of the list! Or were all of us her sweetest memory that if she has to lose all of us it would hurt her badly?? That is a rubbish sentimentalism!! Something that will not exist in an intelligent sister like her! So what were she up to???

About a couple weeks ago, an ID came up into the room, it was a new ID, and we suspected that the ID is the sister we are talking about! The way she talked and the substance she talked about brought a full set of her characteristics! That we are sure that the new ID belongs to our old 'missing' sister!. But oddly, when she first appeared on the net, she didn't act like the one who was missing her old friends especially her special closest friend whom I know her well too. There are also so many things in question as well, like if she decided to return again why didn't she send a text message to her closest friend to inform that she had returned! Why her willing to mask herself outdid her friendly feelings towards her closest friend and the rest of us?? There are so many whys and of course none of them are supposed to be my business. I just want to expect that nobody will be hurt by all these virtual ties! Wait a minute! I didn't say something negative on virtual ties, of course virtual ties can be very positive in so many ways. But if you were hurt by those virtual ties it is a little bit silly since you have expected more from the one that's beyond your ken!

For me, enjoying chatting and sharing stories online is more than enough in my virtual socializing! Inshallah I don't need anything more than that since I was long warned that strange personalities always appear in the net. And that schizophrenic people appear most often, they are waiting for us to charm us while the truth could be far otherwise! To know personally about someone through an online room is a good start! It is only a good start! But to know the complete picture of him/her you'll need more than just a set of PC and an Internet account! That's all for now. Wassalamu alaikum wr wb.

Monday, March 19, 2007

Memahami kecanggihan ciptaan-Nya


Mungkin sejak kita dari kecil kita sudah mempelajari ilmu agama baik di bangku sekolah, di rumah lewat bimbingan guru mengaji, atau membaca artikel-artikel tentang agama Islam ataupun kita mendengar ceramah-ceramah lewat radio atau televisi. Terus terang saja selama saya di bangku sekolah dulu, pelajaran agama Islam termasuk pelajaran yang paling bikin saya mengantuk di kelas apalagi kalau guru agamanya tidak punya sense of humour atau bahasa kerennya nggak bisa melawak wah rasanya tidur di kelas dengan mimpi yang indah sepertinya merupakan alternatif yang lebih baik. Apalagi kalau pelajarannya mengenai akhlak dan budi pekerti, waduh rasanya kok pelajarannya berputar-putar saja dan terus-terusan jalan di tempat! Membosankan!
Yah, itulah saya dulu! Tanpa mengecilkan arti guru-guru agama kita yang telah bersusah payah mengajari kita untuk mendidik kita agar menjadi pribadi-pribadi yang beriman dan soleh, banyak pula guru-guru agama yang hanya berorientasi pada kriteria 'meluluskan atau tidak meluluskan' murid, dan bukan berorientasi kepada fakta bahwa pelajaran agama bukan seperti matematika yang diuji lewat ulangan atau ujian akhir, tapi pendidikan agama lebih berorientasi kepada pembentukan pribadi yang soleh dan bertakwa. Seorang murid mungkin dapat lulus dengan nilai memuaskan dalam pelajaran agamanya namun ia mungkin lulus karena ia sangat pandai dalam menghafal habis pelajaran namun mungkin ia gagal menghayati ataupun menangkap esensi dari pelajaran agama tersebut, sehingga bagi murid-murid seperti ini masalah agama sudah selesai dan 'berakhir' di kertas ulangan saja! Sungguh sayang jikalau hal seperti itu terjadi. Di sini kita dapat menyimpulkan dalam masalah pendidikan agama perlu pendekatan tersendiri yang lebih kreatif agar maksud dan tujuan pembelajaran agama dapat sesuai dengan tujuan hakiki dari pembelajaran agama itu sendiri.


Terus terang, saya dulupun seperti itu. Masalah agama 'hanya penting' pada saat mau ujian atau ulangan saja, setelah itu sudah terlupakan. Sepertinya pelajaran agama di sekolah seperti setengah dipaksakan, itu pemikiran saya dahulu. Namun, alhamdulillah seiring dengan berlalunya waktu, pemikiran sayapun menjadi lebih bijaksana. Semakin tua, saya semakin menghargai setiap informasi dan isi yang terkandung di dalamnya. Dan Internet-pun (teknologi ciptaan Allah yang sayangnya ditemukan oleh orang-orang kafir) sedikit banyak membantu saya dalam menghilangkan rasa dahaga saya akan informasi. Entah telah berapa banyak artikel menarik yang telah saya temui di dunia maya ini yang akhirnya membawa saya pada kesadaran secara tidak langsung bahwa agama (Islam) ternyata jauh lebih luas dari hanya sekedar masalah ibadah, akhlak, budi pekerti ataupun sejarah Islam. Tapi yang paling menarik bagi saya adalah masalah ilmu pengetahuan dan teknologi yang menarik saya pada sebuah kesimpulan bahwa teknologi yang dibuat manusia belum apa-apa dibandingkan dengan yang diciptakan alam (Allah swt).

Contohnya adalah tubuh manusia. Tubuh manusia merupakan kreasi yang sangat canggih yang belum bisa tertandingi sama sekali baik oleh robot atau komputer tercanggih sekalipun. Meskipun kini di berita-berita banyak kita lihat robot-robot yang mulai menirukan gerakan manusia, namun saya yakin belum ada robot yang bisa menuruni anak tangga dengan satu kaki tanpa kehilangan keseimbangan dan jatuh! Karena untuk menirukan keseimbangan seperti itu memerlukan kecanggihan yang sangat luar biasa dan untuk saat ini masih di luar kemampuan para insinyur robotik. Dan suatu ketika saya juga pernah menemukan artikel tentang sel otak. Di situ dikatakan bahwa sel otak hanya mendapatkan energi/kalorinya dari karbohidrat. Seperti kita ketahui bahwa kalori untuk energi di dapat dalam tubuh kita bukan hanya dari karbohidrat, tetapi juga dari lemak, protein, dan lain sebagainya. Nah, jika misalnya tubuh kehabisan karbohidrat untuk suplai energi ke otak, maka dengan menggunakan enzim tertentu maka lemak dan protein dapat segera diubah dengan canggihnya menjadi karbohidrat sehingga sel-sel otak tetap mendapatkan suplai energi/kalori. Sekarang bandingkan misalnya dengan mobil, secanggih-canggihnya sebuah mobil jikalau ia ingin mengubah bahan bakarnya dari bensin ke alkohol misalnya, maka mungkin seluruh mesin harus dibongkar dan diganti dengan mesin yang bisa berfungsi dengan bahan bakar alkohol, sungguh primitif dibandingkan tubuh manusia. Ada lagi yang mengagumkan saya, yaitu sebutir telur, mungkin jika tanpa bantuan 'pantat ayam' manusia mungkin sangat sulit untuk membuat sebutir telur tiruan yang sempurna! Andaikan mungkin manusia dapat membuat sebuah telur di laboratorium atau pabrik-pabrik mungkin harganya dapat jauh lebih mahal dari sebuah mobil! Karena membuat sebuah telur tanpa 'pantat ayam' jauh lebih sulit dibandingkan dengan membuat sebuah mobil atau bahkan pesawat jet sekalipun!

Di sini yang akan saya sampaikan ada 2 hal yaitu: Pertama, alangkah bodohnya kita jikalau kita tidak mempercayai keberadaan Allah swt. Jikalau mobil, pesawat jet, komputer dan lain sebagainya yang jauh lebih primitif aja ada yang mencipta apalagi manusia dan makhluk-makhluk hidup lainnya yang sistem dan mekanismenya jauh lebih canggih dibandingkan mobil ataupun pesawat jet pasti ada pula yang menciptakannya. Kedua, bahwasannya kita sebagai ummat islam (muslimin) kita harus beranggapan bahwa teknologi dan ilmu pengetahuan juga merupakan bagian dari Islam bukan hanya Al-Qur'an dan hadith saja, karena teknologi dan ilmu pengetahuan juga merupakan ciptaan Allah, manusia hanya menemukan saja dan menciptakan simbol-simbolnya berupa rumus-rumus. Jangan sampai ilmu pengetahuan dan teknologi ciptaan Allah itu semuanya diketemukan dan dikuasai oleh orang-orang kafir!! Karena tentu saja itu akan sangat merugikan bagi umat Islam sendiri! Wassalamu 'alaikum wr wb.


Saturday, March 17, 2007

sugar substitute



When I had to stay the nights in the Bhayangkara hospital about two weeks ago because we had to send our dad to the hospital since he fell and suffered from an intertrochanteric hip fracture, the doctor who examined my dad said that his glucose level in the blood was high and they needed to lower it down to minimize aftereffects that might come after the surgery. Well, alhmadulillah, the surgery itself went very smoothly after the doctor successfully controlled the glucose level in my dad's blood. And no negative aftereffects arose after the surgery. But it doesn't stop me from thinking to myself, because after he went out of the hospital yet we have to manage to control our dad's diet, that will help a lot to speed up my dad's recovery. Actually it is easy to find a sugar substitute in the market. High and low you will find saccahrine, cyclamate or aspartam to sweeten your beverages and food. But as I did the exhaustive searches in the Web, I found out that each individual of the substitutes above has never been a perfect replacement for sugar. Here I would like to highlight some of them from the various articles found in the Net.

Saccharine: This is the oldest sugar substitute. This artificial sweetener is approximately 300 times sweeter than sugar though often it leaves a bitter aftertaste. The upside of saccahrine is the stability of the molecular structure in high temperature and it does not react with other food's ingredients biochemically. So at the first place I think this will be the perfect substitute for sugar, at least before I read the next article about saccharine indicating that this artificial sweetener if used over a long period of time may give rise to malignant growth. At least the results in the labs on certain animal support such hypothesis. And the United States banned the use of saccharine in 1977. But later experiments from the labs show that no correlation between the malignant growth and the normal usage of saccharine! Scientists said that the malignant growth caused by saccharine on the labs' animal might be induced by ridiculously high dosage of saccharine given to the animal. The dosage of saccharine given in the experiments was hundreds of times higher than normal dose of human consumption. In 1991, the United States had lifted the ban over saccharine.


Cyclamate: Cyclamate is another artificial sweetener. Its sweetness is 30 - 50 times than that of sugar though it is not necessarily linear since for some people cyclamate leaves strong unpleasant or bitter aftertaste make cyclamate less favourite choice as the sugar substitute. The United States banned the use of cyclamate until today but in some 50 countries in the world including Canada, cyclamate is still approved as the sweetener. Some bacteria in the digestive system are suspected to produce cyclohexylamine from cyclamate to give rise to chronic toxicity in some experiments with animals. In the lab, the increase usage of cyclamate also results in the increased incidence of cancer. But later studies in both the UK and the US found that they could not reproduce the same result from such experiments done earlier! However, cyclamate is nowhere to be found here in the Indonesian market and it is enough for me to strike out cyclamate from the list! As simple as that!


Aspartame: The most popular artificial sweetener in Indonesian market. We will find easily products that come with this sweetener in diet products! According to an article I read, in our body, aspartame will be broken down into aspartic acid, phenylalanine and methanol (this one is highly toxic!). And further breakdown will produce formaldehyde (I remember some time ago in Indonesia there were products of noodles and meatballs or bakso containing this toxic ingredient!). For those who were born with phenylketonuria, aspartame can be a serious hazard to their health! In some experiments there is an indication that there is a relationship between the higher dosage of aspartame and the higher incidence of cancer. However up to now, there are no countries in the world are reported to ban aspartame from the market!

Xylitol: This is considered to be the 'safest' artificial sweetener. The reason is simple, that's because xylitol naturally occurs in the nature especially in some eucalyptic plants and in some berries! Yet more researches still need to be done to ensure the safety of xylitol over a long period of consumption! But for those of you who live in Indonesia and want to get this sweetener, it means you have to pay extra money since the nearest drugstore who sells this kind of sweetener is in Singapore!! Wait a minute! I thought I saw that Xylitol in a local supermarket! Yeah! Don't be fooled, it is Xylitol the gum from Lotte, not the sweetener itself! You get it??

Well, out of four artificial sweeteners outlined above I think I have to stick to aspartame because so far it is the best alternative especially when the availability comes in the first point of the list. It leaves me no choice. What about you people? Do you think it otherwise? Or do you have a better suggestion? Yes I would really like to hear from you. Wassalamu'alaikum wr wb.