Thursday, April 26, 2007
Bahasa Sunda vs. Mentalitas Sunda
Ceritanya begini, sekitar 7 - 8 tahun yang lalu, saya merasa sangat geli ketika membaca sebuah iklan mini (classified) di sebuah surat kabar tentang sebuah lowongan kerja. Di sana ditulis bahwa syarat utama agar diterima bekerja adalah dapat berbahasa Mandarin! Padahal lowongan yang ditawarkan tidak ada hubungannya dengan bahasa atau penterjemah! Saya berfikir coba bayangkan andaikata semua perusahaan asing mewajibkan karyawannya untuk berbahasa ibu mereka, seperti Panasonic dan Sony misalnya, mewajibkan karyawannya untuk berbahsa Jepang, Peugeot dan Alcatel harus berbahasa Perancis, lantas Siemens AG dan BMW harus berbahasa Jerman misalnya, tentu akan menjadi sangat repot dan menggelikan! Trend zaman sekarang jika anda ingin berinvestasi ke luar negeri, beradaptasilah dengan budaya setempat atau minimal kuasai bahasa setempat, atau kalau otak tidak mampu ya kuasailah bahasa Inggris. Jangan memaksakan membawa-bawa bahasa ibu ke negeri orang! Sungguh menggelikan! Orang kaya kok agak bego ya, sayang! Namun ada lagi yang membuat saya geli. Kali ini dari iklan banner di kota Bandung yang mewajibkan karyawan Pemda di lingkungan kabupaten Bandung untuk dapat berbahasa Sunda! Lho!? Kenapa geli?? Bukannya seharusnya begitu?? Toh... mereka adalah aparat yang melayani masyarakat Pasundan, dan Kabupaten Bandung itu terletak di tanah Pasundan! Oke, saya kasih tahu! Pertama di zaman keterbukaan ini tentu banyak masyarakat yang tinggal di kabupaten Bandung bukan hanya masyarakat asli Pasundan, mereka mungkin berasal dari seluruh pelosok di tanah air ini, juga terdapat WNA yang tinggal di kabupaten Bandung. Kedua masyarakat di kabupaten Bandung ini tentunya sudah banyak yang dapat berbahasa Indonesia, toh selama ini kita punya Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan persatuan, jadi dalam segi bahasa sebenarnya tidak ada masalah. Ketiga potensi suatu karyawan jangan dilihat dari sudut bahasa saja! Mungkin saja dia tidak dapat berbahasa Sunda namun ia bisa memberikan sesuatu yang lebih bagi pemda setempat. Alangkah ruginya jikalau sampai menolak potensi yang ada hanya karena bermasalah dalam berbahasa Sunda. Jadi menurut saya, tidak perlulah dibuat peraturan aneh-aneh seperti itu, kalau mau buat peraturan aneh-aneh sekalian saja, suruh masyarakat setempat wajib menguasai bahasa Sunda termasuk WNA-nya sekalian! Kalau tidak bisa silahkan hengkang dari (kabupaten) Bandung! Atau dalam skala nasional, bikin peraturan aneh juga, yang tidak bisa berbahasa Indonesia, tidak boleh jadi WNI !! Jadi orang-orang kampung di pedalaman yang nggak bisa berbahasa Indonesia tidak boleh jadi WNI! Gimana?? menggelikan?? Tentu saja!
Sebenarnya saya sangat setuju sekali untuk melestarikan dan mengangkat bahasa Sunda agar jangan sampai dilupakan. Karena kepunahan suatu bahasa adalah sesuatu yang sangat merugikan. Namun untuk mengangkat citra suatu bahasa, harus dengan cara yang layak dan alami, bukan dengan suatu 'pemaksaan' yang menggelikan! Saya masih melihat kemunafikan dari masyarakat kita (dalam kasus ini masyarakat Sunda) dalam menghargai bahasanya sendiri. Di suatu sisi masyarakat Sunda ingin bahasanya diakui namun di sisi lain, apalagi kalau di luar masyarakatnya, banyak orang-orang Sunda yang 'malu' akan bahasanya sendiri. Ya, ini menyangkut masalah mentalitas! Contoh, sederhana!, banyak masyarakat Bandung (Sunda) yang bangga dengan istilah "Paris van Java" untuk kota Bandung. Sampai-sampai ada mal dan stasiun TV lokal (PJTV) yang menggunakan istilah tersebut! Dasar kita, maunya ikut-ikutan aja tapi tidak tahu ejaan yang benar! Seharusnya: Parijs van Java bukan Paris van Java. Udah ikut-ikutan, salah pula! Kenapa orang Bandung sangat bangga dengan istilah "Parijs van Java"? Itu karena ada kata "Parijs"-nya, yang melambangkan keindahan kota Paris yang nun jauh di seberang! Jadi yang 'dibanggakan' orang Bandung dengan istilah 'Parijs van Java' bukan kota Bandung-nya sendiri tapi kota Paris yang sama sekali tak ada hubungannya dengan tanah Pasundan! Ampun deh! Istilah peninggalan kolonial kok masih dipakai-pakai! Apa tidak bisa menciptakan istilah lain yang lebih menyunda??? Mungkin orang Sunda sendiri berfikir kalau menciptakan istilah pakai bahasa Sunda sendiri pasti kurang keren, nggak funky! Dasar mentalitas kita! O iya, terus terang saya sendiri sebenarnya seseorang yang agak Francophile yang agak 'tergila-gila' dengan sesuatu yang berbau Perancis! Rendahkah mentalitas saya?? Wah itu sih silahkan anda menilai sendiri, bebas kok! Tetapi yang jelas saya hanya meniru yang positif-positif dan berguna saja seperti belajar bahasanya dan juga mentalitas-mentalitas positif orang Perancis yang 'wajib' saya tiru! Tidak akan saya menamai anak-anak saya dengan nama Perancis seperti: Pierre, Jean, Henri, Guillaume, dan lain-lainnya. Jangankan anak-anak saya, kucing-kucing dan anjing saya aja tidak ada yang dinamai pakai nama Perancis! Hahahaha...!! Saya sangat menghargai Perancis karena negeri yang relatif kecil itu (bandingkan dengan negeri kita) telah banyak menyumbang banyak bagi peradaban dan kesejahteraan umat manusia di bumi ini. Negeri itu telah melahirkan nama-nama seperti: Louis Pasteur, Antoine Lavoisier, Pierre Currie beserta istrinya Marie Curie (yang ini orang Polandia, tapi kalau ia tidak pergi ke Perancis mungkin namanya tidak akan pernah terdengar!), Louis de Broglie, dan lain-lain. Perancis juga tempat lahirnya metric system sebuah sistem pengukuran fisik seperti meter, gram dan lain sebagainya yang digunakan luas di seluruh dunia dan juga sebagai sistem pengukuran resmi di dunia sains dan keteknikan. Perancis juga tempat lahirnya sistem kepolisian modern di dunia ini. Bukan itu saja... dua event olahraga paling populer di dunia ini, dua-duanya diprakarsai oleh orang Perancis. Piala Dunia (Coupe du Monde) sepakbola diprakarsai oleh orang Perancis, Jules Rimet. Sedangkan olimpiade, walaupun olimpiade berasal dari Yunani, tetapi olimpiade modern dipelopori juga oleh orang Perancis yang bernama Baron Pierre de Coubertin! Terlebih lagi Perancis saat ini merupakan tempat di Eropa Barat yang paling subur umat Islamnya. Demokrasi dan persamaan hak dan toleransi yang berkembang dengan baik di Perancis (tentu saja tidak ada sistem yang sempurna, masih ada kekurangan di sana sini), telah memungkinkan umat Islam untuk beremigrasi ke Perancis dan mendapatkan kehidupan yang layak dan tenang di negeri itu serta diberi jaminan melakukan kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinan agama masing-masing, dalam hal ini Islam. Pokoknya banyak catatan panjang yang membuat saya sangat menghargai negeri yang juga disebut L'Hexagone ini karena bentuk fisik negaranya yang secara kasar mirip segi enam ini.
Kita kembali ke masalah mentalitas kita ini. Pokoknya banyak sekali contohnya di sekitar kita di mana orang-orang Sunda sendiri secara tidak langsung tidak menghargai bahasanya sendiri. Banyak event-event akbar yang digelar di Bandung diberi judul pakai bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya. Belum lagi yang kita temukan di mal-mal, papan reklame, dsb. Tentu anda dengan mudah dapat mencarinya sendiri! Saya sendiri, meskipun sudah terbiasa berbahasa Inggris, namun saya masih ingin menulis blog saya memakai bahasa Indonesia. Sebenarnya saya ingin sekali menulis seluruh posting saya dalam bahasa Inggris, namun akhirnya saya memutuskan untuk memakai bahasa Inggris dan Indonesia berselang-seling. Ini bentuk apresiasi saya kepada bahasa nasional kita.
Memang sulit bagi kita di zaman keterbukaan ini untuk tidak dapat berbahasa Inggris (asing). Dan saya sadar bahwa bahasa Sunda (dan bahasa-bahasa daerah lainnya) tidak hanya bersaing dengan Bahasa Indonesia tetapi juga harus bersaing dengan bahasa-bahasa asing seperti bahasa Inggris, Mandarin, Jepang, Perancis dan lain-lain, bahasa-bahasa tersebut dengan mudah dapat menarik simpati orang-orang di negeri ini, terutama karena prestasi bangsa-bangsa penutur bahasa-bahasa tersebut memang menyilaukan. Tetapi saya yakin jikalau memang bahasa Sunda menjadi punah itu bukan karena semata-mata serbuan bahasa-bahasa asing tersebut, tetapi lebih karena mentalitas orang-orang Sunda itu sendiri. Dan skenario seperti itu tentu saja bukan hanya berlaku bagi bahasa Sunda saja, tetapi juga berlaku bagi bahasa-bahasa lainnya di negeri ini bahkan mungkin juga berlaku bagi bahasa Indonesia yang kita cintai ini.
Wassalamu 'alaikum wr. wb.
Wednesday, April 25, 2007
Contact

Tuesday, April 10, 2007
Optical Illusions
1. THE PINK DOT
To make this illusion work for you, you have to click this picture below to make the picture animating. Then you have to follow these steps: First, you have to follow the movement of the encircling pink dots for a while (for about ten seconds). Second, now stare at the sign '+' at the centre. Keep staring at it! After a while you will see a green dot moving around the '+' sign. That's it.
2. NONE IS THE BIGGERNow look at the dots in the centre of each group! It will leave an impression on you that the central dot at the right group is bigger than the one in the left! Well, it's wrong! Both of the circles' diameters are of the same length!
Sunday, April 8, 2007
Batas antara mengambil laba yang tinggi dan menipu

Friday, April 6, 2007
Between the Petronas Towers and the Burj Dubai
Burj Dubai in Dubai, the UAE
If you look at those two pictures above, you would know that those two skyscrapers are the world's tallests. The Petronas Towers (452m) are the past world's tallest building in the world while Burj Dubai (810m) is the future world's tallest building in the planet. Burj Dubai will be completed circa 2008. The world's tallest building today at the time this article is written is Taipei 101 (509m) in Taipei, Taiwan. Actually The Mubarak Tower (1001m) in Kuwait City will be the next tallest building in the world, the only building in the planet that hits the mark of kilometer, but the tower is only still proposed.
As a Muslim, of course, at first if I looked at those two buildings I would be proud of them. Because those two are built in the 'land' of the muslimin. But soon my pride of them began to fade away as the bitter fact came to surface. What was that? It all began when I watched the National Geographic Channel's (NGC's) Mega Structures which tells us about the large or unusual man-made constructions in the world. One of the episodes is about the Petronas Towers in KL, Malaysia. In the episode, the proccess of constructing the towers is revealed completely and in an awesome detail. But as the show rolled on, I became so surprised and a bit disappointed to realise that Petronas Towers are impossible to be completed without the hands of western engineers! The episode has also left strong impression that the toughest jobs of the engineering can only be done by the western engineers with their technologies! I was so saddened then I asked myself "Are there no muslim engineers who can build such huge enormous towers?" "Are we so backward that we cannot build anything big and important in this world?". The case is also true for the Burj Dubai. In the next episodes I found the 'solid' facts through the episodes that those all magnificent and out-of-this-world structures in Dubai like Burj al-Arab, The Palm and The World involving loads of top-notch western know-hows and state-of-the-art western technologies! pitty us!
Well, as I am not an engineer nor a scientist, all I can do is to call upon the bros and the sisters to open a new frontier of jihad! A new frontier of jihad?? Yes let's establish a 'holy war' against our own backwardness! Let us outskill or outdo them in science and technology instead of killing them or killing the innocent people! That would bring Islam to the glory, and any deeds that can bring Islam to the glory could be called Jihad I think. And inshallah, Allah will reward us for doing such jihad. And inshallah if we can bring Islam to the glory, we will also gain respects from all the corners of the world!
That's it for tonight! Wassalamu 'alaikum wr wb
Wednesday, April 4, 2007
Di antara anggota DPR(D) dan Yusril Ihza Mahendra
Kita tentu telah mendengar akhir-akhir ini lewat media massa bahwa anggota DPR(D) kita mendapat jatah laptop! (Dulu bonus duit telekomunikasi atau apalah sekarang jadi dapat laptop mereka!) Waaah.... asyik dong ya?? Saya juga mau tuh! hehehehe...! Tapi kok aneh ya? Anggota DPR(D) yang notabene kebanyakan orang-orang berduit kok dikasih laptop ya? Apa mereka nggak mampu beli laptop?? Kenapa saya yang 'miskin' kok nggak kebagian ya?? (hehehe... emang siapa yang mau ngasih lu laptop, lagi!!) Eh, salah deh..... saya juga bisa kebagian laptop, tinggal minta boss aja, boss gue sayang kok sama gue...hihihi....Tapi sayang..... saya malu tuh minta sama boss, dikasih aja saya malu kok (walaupun dalam hati mau!) apalagi kalau saya tidak bisa menunjukkan prestasi saya di kantor. Malu deh udah berkumis seperti ini masih minta boss, malu deh gue sama kumis gue hehehehe. Kalau begitu ya udah deh, biarkan saja para anggota DPR(D) itu dapat laptop mudah-mudahan kinerja mereka tambah baik walaupun dari pengalaman yang sudah-sudah (dan cukup sudah!) penambahan-penambahan bonus-bonus yang diberikan kepada para anggota DPR(D) tidak pernah menambah prestasi dan kinerja mereka. Apalagi cuma dikasih laptop tuh! buat apa?? Lha wong rata-rata mereka belum tentu lebih pintar dari saya dalam menggunakan komputer kok. Paling-paling yang mereka gunakan hanya MS-Word dan sedikit MS-Excel, itu juga paling-paling bisanya cuma operasi aritmatika dasar dan juga pengurutan data berdasarkan abjad atau numerik. Paling-paling cuma itu! O iya mungkin ditambah Windows Media Player atau program multimedia player lainnya untuk mendengarkan musik-musik mp3 atau menonton video-video porno! Malah kabarnya di beberapa daerah yang sudah menjalankan program laptop untuk para anggota DPRD ini, laptop-nya udah ada yang rusak! Wah mubazir amat tuh! Daripada membelikan anggota DPRD yang tak berguna itu laptop, mendingan anggarannya dibuat untuk beli komputer untuk sekolah-sekolah tertinggal dan universitas-universitas negeri. Kasihan tuh banyak siswa-siswa atau mahasiswa-mahasiswa yang berprestasi tapi tak mampu beli komputer sehingga harus berdesak-desakkan di rental komputer atau harus pergi ke rumah temannya yang mampu. Kan lumayan tuh?? Hitung-hitung untuk investasi ikut membuat generasi muda yang bermutu untuk masa depan. Eh, omong-omong saya mau dong jadi anggota DPR(D).... enak fasilitasnya banyak...saya jadi iri deh....hihihihihi.... eh tapi nggak bisa ya?? Soalnya benar nggak sih, anggota DPR(D) harus berijazah S1?? Ya udah deh..... saya mau beli ijazah S1 aja dulu..... di UNPAD dijual nggak ya?? Kalau ada mau beli dong! berapa ya kira-kira harganya kalau ada?? hehehehe....
Oke, sekarang kita pindah bahan ghibahan dari para anggota DPR(D) ke Yusril Ihza Mahendra! Saya ingat dulu di akhir tahun 1990an dan awal tahun 2000an, si Yusril ini sering tampil di televisi dan ikut memberi ceramah-ceramah agama di televisi. Dulu saya mengira, wah tipe orang seperti ini nih yang diperlukan oleh negara, muda, cerdas (minimal berpendidikan formal lah... meskipun bahasa Inggrisnya masih bagusan gue!), simpatik (bukan SIMpanse PAkai baTIK lho!) dan kelihatannya ini orang mengerti benar masalah agama! Eh, nggak tahunya sekarang ternyata dia doyan juga sama duit haram! hihihihi.... Menurut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), harta kekayaan si Yusril ini sejak jadi menteri harta kekayaannya membengkak 3 kali lipat jadi sekitar Rp 6 milyar,-. Wow. Menurut rumus matematika yang paling canggihpun dengan gaji seorang menteri nggak akan mungkin hartanya dia akan bertambah sebanyak itu! Apalagi si Yusrilpun ternyata tidak bisa menjawab darimana kebanyakan hartanya itu berasal. Nah lho! KPK mencurigai Yusril jadi tempat 'penampungan' sementara harta dari keluarga Cendana yang berasal dari BNP Paribas di London (kalau nggak salah!). O iya.... kata seorang ibu-ibu muda berjilbab, orang tua dari teman anak saya, yang dari dulu nge-fans banget (atau tepatnya mungkin naksir kali ya, tapi nggak kesampaian hihihihi....) sama si Yusril, memberikan pembenaran dengan alasan sederhana: "Lah, Yusril kan juga manusia!). LHA IYALAH, sama gue juga manusia yang doyannya mengghibah (tapi mengghibah yang kenyataan bukan yang fitnah). Hehehehe.... udah mengghibah bangga lagi ya? Biarin deh... daripada udah korupsi masih cuek pula.... apalagi masih sok suci! Duuuh!
Menurut saya ini adalah kesalahan falsafah hidup orang Indonesia secara tak langsung di mana status sosial masih semata-mata diukur berdasarkan nilai uang yang dimiliki, bukan berdasarkan ukuran dari mana duit itu berasal, atau bukan berdasarkan pekerjaan apa yang ia lakukan. Di Swiss atau Austria, seseorang yang mendapatkan kekayaan dari jalan korupsi dianggap sangat hina betapapun ia kayanya. Dan menurut survey di Jepang dan di AS yang saya pernah baca (tapi lupa di mana), kebanyakan masyarakat menilai seorang dokter jauh lebih terhormat daripada menjadi seorang pengusaha, walaupun mungkin menjadi seorang pengusaha bisa jadi jauh lebih kaya dari seorang dokter. Itu mungkin karena profesi seorang dokter yang dekat dengan penyembuhan orang sakit dan juga kenyataan bahwa menjadi seorang dokter lebih sulit daripada menjadi seorang pengusaha. Dengan modal duit Rp 10 juta,- misalnya mungkin anda sudah bisa menjadi seorang pengusaha tapi dengan duit tersebut belum tentu anda bisa menjadi dokter. Nah, di Indonesia ini status sosial kebanyakan masih dihitung hanya berdasarkan nilai uang yang dimiliki, jadinya ya banyak seperti Yusril-Yusril di negeri ini, yang penting kaya (asal jangan kaya(k) monyet!), nggak penting itu duit halal apa haram!
Ok deh, untuk para sisters dan brothers yang membaca artikel saya ini. Konklusi saya adalah, saya bukannya ingin mengajak sis dan bros untuk mengghibah seperti saya. Ya nggak lah. Bagaimanapun juga perbuatan mengghibah itu sesuatu perbuatan yang negatif dan tentu saja dapat bersifat merusak atau dekonstruktif, tapi saya ingin menunjukkan bahwa banyak hal-hal lain yang jauh lebih merusak dibandingkan dengan sekedar ghibah, seperti korupsi dan munafik! Saya senang jikalau ada dari bro dan sis yang memperingatkan saya kalau saya sedang mengghibah, tapi saya lebih senang lagi kalau tindakan para bro dan sis tidak berhenti sampai di sini. Mudah-mudahan para bro dan sis pun juga berani menegur dan mencegah orang-orang di sekitar bro atau sis yang melakukan 'korupsi' di kantornya walaupun itu kecil-kecilan. Jangan malah ikut-ikutan, malah sampai ikut-ikutan nge-mark-up segala!!! Ok?
Wassalamu'alaikum wr wb.
Tuesday, April 3, 2007
A new moon in a lunar calendar
It was May 2004, in the small hours of the day, I was watching a fabulous tennis match live from Rome, Italy. I remember on the court it was Germany's Tommy Haas taking on the American Andy Roddick. If you know tennis rules, you realise that there is always a break in every other game. That's the time for the TV station to air the commercials! But in one of the breaks, it wasn't the commercials that appeared on the screen, it was something else that's really beautiful. It was a live view of a total lunar eclipse! Unlike a total solar eclipse which always gives a dark image to the solar disk, the lunar disk is not dark during a total lunar phase. The body of the earth that eclipsed the moon will make the lunar disk appear reddish during the total lunar eclipse due to the earthshine effused by the atmosphere of the earth! It was very beautiful! As I watched the picturesque view of the eclipse on the television I again began to admire the creator of the solar system and the universe where our abode of planet earth abides! So I don't want to talk about tennis in this article, but I would really like to write about the moon and the lunar calendar. Again I would have to remind you, that this article is only written by a layman at astronomy for it is not a scientific article. Monday, April 2, 2007
I'm thinking to myself, what kinda blog will it be?
In general, all of my blogs I had looked around are very very beautiful and enlightening and soon I began to think to myself: "I should build one like these blogs" firmly and determinately! Soon after, I began to write an article for the blog, and for the first ten sentences it seemed that I found nothing that got in the way. But as the writing rolled on and went beyond the tenth sentence I began to meet a huge stumbling block that prevented me from writing any further. My mind was blank and I felt like a toddler who has to write his first letter! So I didn't know where to go from there. Fortunately apart from the blogging matters, I could still think clearly and rationally so I started to collect my mind, breathed deeply, and eventually thought what had gone wrong with the first ideas I had found earlier. Where were they gone? As I began to successfully relax myself and gained a full control over my mind, I realised why I couldn't carry on with the previous ideas, and why I couldn't start it from their (my bros' and sisters') blogs. Soon afterwards I began to make a list of the whys, do you want to know? Here they are:
1. My faith and my knowledge in Islam is not very good. That's why I think I cannot write something that's very Islamic, unlike the other blogs I had seen.
2. Though I agree that unoriginal postings can be very beautiful and very informative, I personally don't like to write a prefabricated article. If I have to write a prefabricated article inshallah I will try to write it by my own efforts and by my own words, not just simply applying a copy-and-paste stuff in my article! Well, don't take me wrong, it means, I mean, it MEANS that I just don't like to write a prefabricated article, and it doesn't mean that I dislike to read copy-and-paste articles! Yes, I still like to read ready-made articles posted by my bros and sisters somewhere!
3. I am always to be honest to everyone especially to myself even in this virtual world! That's why sometimes I would raise some unusual topics! If you had read my previous articles you would see some of them bring in odd topics! Even in some of articles I didn't hesitate to include 'improper' materials and phrases such as, same-sex love, fornication, etc. in a straight-ahead manner!
Given the points above, to all of my dear sisters and brothers, I would like to apologise if you found something ugly or offensive in my articles, and I can understand if you consider those articles not worth viewing. Again, I would like to be honest to you, I need more criticism to improve my writing in the future. For me, personally and honestly, harsh (but intelligent) criticisms are more welcomed than just phoney compliments! Ok? hehehehe ;))
Wassalamu alaikum wr wb





