Thursday, April 26, 2007

Bahasa Sunda vs. Mentalitas Sunda

Bagi orang Sunda yang membaca judul di atas, jangan naik darah dulu! Tidak ada maksud saya untuk menulis sesuatu yang SARA di sini karena SARA bukanlah sifat dari saya, namun kalau memang anda menilai bahwa artikel ini ada bau-bau SARA-nya itu mungkin karena saya memang suka mengeritik dengan pedas, bahkan terkadang sangat pedas! Oke, sebelum berkomentar sebaiknya baca dulu artikel ini sampai habis.

Ceritanya begini, sekitar 7 - 8 tahun yang lalu, saya merasa sangat geli ketika membaca sebuah iklan mini (classified) di sebuah surat kabar tentang sebuah lowongan kerja. Di sana ditulis bahwa syarat utama agar diterima bekerja adalah dapat berbahasa Mandarin! Padahal lowongan yang ditawarkan tidak ada hubungannya dengan bahasa atau penterjemah! Saya berfikir coba bayangkan andaikata semua perusahaan asing mewajibkan karyawannya untuk berbahasa ibu mereka, seperti Panasonic dan Sony misalnya, mewajibkan karyawannya untuk berbahsa Jepang, Peugeot dan Alcatel harus berbahasa Perancis, lantas Siemens AG dan BMW harus berbahasa Jerman misalnya, tentu akan menjadi sangat repot dan menggelikan! Trend zaman sekarang jika anda ingin berinvestasi ke luar negeri, beradaptasilah dengan budaya setempat atau minimal kuasai bahasa setempat, atau kalau otak tidak mampu ya kuasailah bahasa Inggris. Jangan memaksakan membawa-bawa bahasa ibu ke negeri orang! Sungguh menggelikan! Orang kaya kok agak bego ya, sayang! Namun ada lagi yang membuat saya geli. Kali ini dari iklan banner di kota Bandung yang mewajibkan karyawan Pemda di lingkungan kabupaten Bandung untuk dapat berbahasa Sunda! Lho!? Kenapa geli?? Bukannya seharusnya begitu?? Toh... mereka adalah aparat yang melayani masyarakat Pasundan, dan Kabupaten Bandung itu terletak di tanah Pasundan! Oke, saya kasih tahu! Pertama di zaman keterbukaan ini tentu banyak masyarakat yang tinggal di kabupaten Bandung bukan hanya masyarakat asli Pasundan, mereka mungkin berasal dari seluruh pelosok di tanah air ini, juga terdapat WNA yang tinggal di kabupaten Bandung. Kedua masyarakat di kabupaten Bandung ini tentunya sudah banyak yang dapat berbahasa Indonesia, toh selama ini kita punya Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan persatuan, jadi dalam segi bahasa sebenarnya tidak ada masalah. Ketiga potensi suatu karyawan jangan dilihat dari sudut bahasa saja! Mungkin saja dia tidak dapat berbahasa Sunda namun ia bisa memberikan sesuatu yang lebih bagi pemda setempat. Alangkah ruginya jikalau sampai menolak potensi yang ada hanya karena bermasalah dalam berbahasa Sunda. Jadi menurut saya, tidak perlulah dibuat peraturan aneh-aneh seperti itu, kalau mau buat peraturan aneh-aneh sekalian saja, suruh masyarakat setempat wajib menguasai bahasa Sunda termasuk WNA-nya sekalian! Kalau tidak bisa silahkan hengkang dari (kabupaten) Bandung! Atau dalam skala nasional, bikin peraturan aneh juga, yang tidak bisa berbahasa Indonesia, tidak boleh jadi WNI !! Jadi orang-orang kampung di pedalaman yang nggak bisa berbahasa Indonesia tidak boleh jadi WNI! Gimana?? menggelikan?? Tentu saja!

Sebenarnya saya sangat setuju sekali untuk melestarikan dan mengangkat bahasa Sunda agar jangan sampai dilupakan. Karena kepunahan suatu bahasa adalah sesuatu yang sangat merugikan. Namun untuk mengangkat citra suatu bahasa, harus dengan cara yang layak dan alami, bukan dengan suatu 'pemaksaan' yang menggelikan! Saya masih melihat kemunafikan dari masyarakat kita (dalam kasus ini masyarakat Sunda) dalam menghargai bahasanya sendiri. Di suatu sisi masyarakat Sunda ingin bahasanya diakui namun di sisi lain, apalagi kalau di luar masyarakatnya, banyak orang-orang Sunda yang 'malu' akan bahasanya sendiri. Ya, ini menyangkut masalah mentalitas! Contoh, sederhana!, banyak masyarakat Bandung (Sunda) yang bangga dengan istilah "Paris van Java" untuk kota Bandung. Sampai-sampai ada mal dan stasiun TV lokal (PJTV) yang menggunakan istilah tersebut! Dasar kita, maunya ikut-ikutan aja tapi tidak tahu ejaan yang benar! Seharusnya: Parijs van Java bukan Paris van Java. Udah ikut-ikutan, salah pula! Kenapa orang Bandung sangat bangga dengan istilah "Parijs van Java"? Itu karena ada kata "Parijs"-nya, yang melambangkan keindahan kota Paris yang nun jauh di seberang! Jadi yang 'dibanggakan' orang Bandung dengan istilah 'Parijs van Java' bukan kota Bandung-nya sendiri tapi kota Paris yang sama sekali tak ada hubungannya dengan tanah Pasundan! Ampun deh! Istilah peninggalan kolonial kok masih dipakai-pakai! Apa tidak bisa menciptakan istilah lain yang lebih menyunda??? Mungkin orang Sunda sendiri berfikir kalau menciptakan istilah pakai bahasa Sunda sendiri pasti kurang keren, nggak funky! Dasar mentalitas kita! O iya, terus terang saya sendiri sebenarnya seseorang yang agak Francophile yang agak 'tergila-gila' dengan sesuatu yang berbau Perancis! Rendahkah mentalitas saya?? Wah itu sih silahkan anda menilai sendiri, bebas kok! Tetapi yang jelas saya hanya meniru yang positif-positif dan berguna saja seperti belajar bahasanya dan juga mentalitas-mentalitas positif orang Perancis yang 'wajib' saya tiru! Tidak akan saya menamai anak-anak saya dengan nama Perancis seperti: Pierre, Jean, Henri, Guillaume, dan lain-lainnya. Jangankan anak-anak saya, kucing-kucing dan anjing saya aja tidak ada yang dinamai pakai nama Perancis! Hahahaha...!! Saya sangat menghargai Perancis karena negeri yang relatif kecil itu (bandingkan dengan negeri kita) telah banyak menyumbang banyak bagi peradaban dan kesejahteraan umat manusia di bumi ini. Negeri itu telah melahirkan nama-nama seperti: Louis Pasteur, Antoine Lavoisier, Pierre Currie beserta istrinya Marie Curie (yang ini orang Polandia, tapi kalau ia tidak pergi ke Perancis mungkin namanya tidak akan pernah terdengar!), Louis de Broglie, dan lain-lain. Perancis juga tempat lahirnya metric system sebuah sistem pengukuran fisik seperti meter, gram dan lain sebagainya yang digunakan luas di seluruh dunia dan juga sebagai sistem pengukuran resmi di dunia sains dan keteknikan. Perancis juga tempat lahirnya sistem kepolisian modern di dunia ini. Bukan itu saja... dua event olahraga paling populer di dunia ini, dua-duanya diprakarsai oleh orang Perancis. Piala Dunia (Coupe du Monde) sepakbola diprakarsai oleh orang Perancis, Jules Rimet. Sedangkan olimpiade, walaupun olimpiade berasal dari Yunani, tetapi olimpiade modern dipelopori juga oleh orang Perancis yang bernama Baron Pierre de Coubertin! Terlebih lagi Perancis saat ini merupakan tempat di Eropa Barat yang paling subur umat Islamnya. Demokrasi dan persamaan hak dan toleransi yang berkembang dengan baik di Perancis (tentu saja tidak ada sistem yang sempurna, masih ada kekurangan di sana sini), telah memungkinkan umat Islam untuk beremigrasi ke Perancis dan mendapatkan kehidupan yang layak dan tenang di negeri itu serta diberi jaminan melakukan kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinan agama masing-masing, dalam hal ini Islam. Pokoknya banyak catatan panjang yang membuat saya sangat menghargai negeri yang juga disebut L'Hexagone ini karena bentuk fisik negaranya yang secara kasar mirip segi enam ini.

Kita kembali ke masalah mentalitas kita ini. Pokoknya banyak sekali contohnya di sekitar kita di mana orang-orang Sunda sendiri secara tidak langsung tidak menghargai bahasanya sendiri. Banyak event-event akbar yang digelar di Bandung diberi judul pakai bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya. Belum lagi yang kita temukan di mal-mal, papan reklame, dsb. Tentu anda dengan mudah dapat mencarinya sendiri! Saya sendiri, meskipun sudah terbiasa berbahasa Inggris, namun saya masih ingin menulis blog saya memakai bahasa Indonesia. Sebenarnya saya ingin sekali menulis seluruh posting saya dalam bahasa Inggris, namun akhirnya saya memutuskan untuk memakai bahasa Inggris dan Indonesia berselang-seling. Ini bentuk apresiasi saya kepada bahasa nasional kita.

Memang sulit bagi kita di zaman keterbukaan ini untuk tidak dapat berbahasa Inggris (asing). Dan saya sadar bahwa bahasa Sunda (dan bahasa-bahasa daerah lainnya) tidak hanya bersaing dengan Bahasa Indonesia tetapi juga harus bersaing dengan bahasa-bahasa asing seperti bahasa Inggris, Mandarin, Jepang, Perancis dan lain-lain, bahasa-bahasa tersebut dengan mudah dapat menarik simpati orang-orang di negeri ini, terutama karena prestasi bangsa-bangsa penutur bahasa-bahasa tersebut memang menyilaukan. Tetapi saya yakin jikalau memang bahasa Sunda menjadi punah itu bukan karena semata-mata serbuan bahasa-bahasa asing tersebut, tetapi lebih karena mentalitas orang-orang Sunda itu sendiri. Dan skenario seperti itu tentu saja bukan hanya berlaku bagi bahasa Sunda saja, tetapi juga berlaku bagi bahasa-bahasa lainnya di negeri ini bahkan mungkin juga berlaku bagi bahasa Indonesia yang kita cintai ini.

Wassalamu 'alaikum wr. wb.

Wednesday, April 25, 2007

Contact


If you have ever watched the movie 'Contact' which poster is displayed on the left, you would know that the screenplay of the movie is about the humankind seeking the companionship across the vast universe. Although in the play, the pretty young woman scientist (starred by Jodie Foster) successfully received the replying pulsating signal from a far-off solar system, in reality the case is not true, or at least not yet true. Scientists, astronomers, exobiologists(?) are still working hard around the clock to spot any colonies of intelligent extra-terresterials!, if there is any!
Apart from the sci-fi movie you watched, do you believe in the existence of other races out there somewhere in the vast space? For me personally I don't know the answer yet. This issue itself still confuses me very much. Besides only a little fraction of the vast space that has already been scanned by our scientists. Consider that the scanning proccess of the space began only 50 years ago, it means that the part of the space that has been completely scanned is only up to the approximate circumference of 300,000 x 60 x 60 x 24 x 365 x 50 = 567,648,000,000,000 kilometers away from the earth. According to scientists that the edge of our universe is about 5 billion light years away ( I don't dare to translate it into kilometers since my calculator will not be able to accomodate to this extrahuge number!! hehehe...). It means that the part of the space that yet to be scanned is as far as (5,000,000,000 - 50) light years away to go! Whew! What a number!
In other words, with the present technology we are using now, we have to wait for 4,999,999,950 more years to completely finish scanning our universe, and to know whether there are advanced civilisations or not within this vast universe! Or are we completely a lone species in this huge universe?? Are we really unique? Those questions before-mentioned also lead to other questions: If there are some far more advanced civilisations residing somewhere far-off in distant galaxies, with modern technologies in hand, with ultramodern telecommunication system and starships that can zap near the speed of light, why don't they try to do the same which means to contact us? why don't their ultramodern spaceships flock to visit our blue planet?? Are they not interested in searching for other civilisations in the benefit of mutual knowledge sharing?? Or perhaps we are too primitive for them to draw their attention to us! Heck! Who knows??
Ok. Let's forget about those questions above. I would like to correlate the existence of superior aliens in the outer space with the religion (Islam) I learnt in school. I remember when I was in school, I was told by my religion teacher that human is the most perfect being amongst other beings. If there are more 'superior' aliens with more 'superior' intelligent somewehre in the distant, then where is the perfectness of the human beings? Even though I understand that perfectness is not always attributable to intelligence. Perfectness also covers a great variety of dimensions. But intelligence I think is the most profound dimension that a species owns concerning perfectness. As we see, that that superior intelligence of the human beings on this planet that makes homo sapiens so unique, so powerful, and they take the greatest role in shaping our planet! This powerful weapon of intelligence make our species survive through the test of time! With our intelligence too, other species with mammoth bodies, or with sharper claws and fangs, or the ones with deadly venoms cannot destroy us!
Now can any of you, my bros and sisters in faith, come with a good answer concerning the existence of aliens and our superiority? I would like to hear from you. Ok. I think that's all for today.
Wassalamu 'alaikum wr wb.

Tuesday, April 10, 2007

Optical Illusions

As I run out of a topic today, I would like to present something else for you. This is all about optical illusions. I have been always enjoying optical illusions since the first time my dad bought a book on it when I was a kid. I hope you will enjoy the illusions that are playing tricks on your eyes and your brain!

1. THE PINK DOT
To make this illusion work for you, you have to click this picture below to make the picture animating. Then you have to follow these steps: First, you have to follow the movement of the encircling pink dots for a while (for about ten seconds). Second, now stare at the sign '+' at the centre. Keep staring at it! After a while you will see a green dot moving around the '+' sign. That's it. 2. NONE IS THE BIGGER
Now look at the dots in the centre of each group! It will leave an impression on you that the central dot at the right group is bigger than the one in the left! Well, it's wrong! Both of the circles' diameters are of the same length!
3. HORIZONTAL VS VERTICAL
Those zig-zagging thicker vertical lines are trying to fool you optically. Those thicker vertical lines are very dominant that they give you a false impression that the horizontal lines are also zig-zagging or sloping. Well, again it's wrong, those horizontal lines are completely straight! Check it yourself!


4. THE SHRINKING GREY SHADE
Now keep staring at the black dot at the centre. After a while the grey shade around the dot will appear to shrink until it 'almost' disappears. That's because as you focus on the central dot, your brain starts to ignore the image of the surrounding! As your focus is away from the central dot, the grey shade will reappear in no time.



5. THE COLOUR
Now try to say the COLOUR loud and fast! Don't say the word but say the COLOUR! I wonder how well you can do it. If you are 'educated' you will find difficulty to do it but if you are an illiterate or if you are a non-Roman-alphabet reader you will find it easy to do. Now if I replace the words with the ones in French or Swedish, can you do it better? For me, if those words are written in Arabic, I can do it very well since I don't know Arabic much. Hehehe....


Ok folks, I hope you enjoy the optical illusions above. That's all for now.
Wassalamu 'alaikum wr wb.



Sunday, April 8, 2007

Batas antara mengambil laba yang tinggi dan menipu



Sejak kira-kira 10 tahun yang lalu, saya ini adalah seorang 'kolektor' jam tangan. Tapi bukan jam tangan yang kelas tinggi sih, tapi jam tangan yang kelas menengah saja. Arloji-arloji (jam tangan) saya kebanyakan adalah merk Casio, Timex, Yema, Seiko, Citizen dan Swatch (yang asli dari counter-nya lho, bukan yang palsu) yang harganya antara Rp.250.000,- hingga Rp. 2 juta,-. Kalau beli yang harganya lebih dari Rp. 2 juta,- masih belum mampu hehehehe... jadi harap maklum. Mungkin satu-satunya arloji saya yang mungkin termasuk mewah adalah arloji Tissot-T-Touch Titanium yang seperti gambar di sebelah ini, pemberian (lagi-lagi pemberian) boss saya sewaktu saya berulang tahun Agustus 2006 lalu. Jam ini juga sekaligus menjadi jam kesayangan saya. Waktu itu sekali saya pernah iseng-iseng cek harga ke toko Central Watch di BIP, harganya cukup mencengangkan buat saya yaitu sekitar US$1425 atau sekitar Rp. 14 juta,-. Kalau saya sendiri sih untuk sekarang ini mana kuat beli jam dengan harga segitu. Jam tangan ini selain berfungsi sebagai penunjuk waktu, bisa juga berfungsi sebagai Thermometer, Barometer, Altimeter dan Kompas dan tentu saja fitur-fitur standarnya seperti alarm, stopwatch, timer dan lain-lain. Tapi saya paling suka adalah fitur kompasnya, jika dia berfungsi sebagai kompas, jarum jamnya dengan luwesnya bisa berubah fungsi menjadi jarum kompas penunjuk arah selain data digital arah yang ditampilkan di layar LCD-nya. Pokoknya sip deh!
O iya, itu bukan topik utama saya kali ini. Itu tadi hanya prelude aja untuk memperpanjang artikel hehehe... tapi sedikit banyak ada hubungannya dengan topik utama. Suatu hari di hari Minggu (saya udah lupa persisnya kapan), saya dan anak saya berkunjung ke masjid Salman ITB melihat pameran buku, sekalian sholat dzuhur dan makan di kantin Salman-nya. Pulangnya saya mampir di pasar Balubur di dekatnya untuk mengganti baterai arloji Timex Sports 1440 saya. Memang ada beberapa kios baik milik pribumi ataupun non-pri yang menjual baterai kancing CR-2032 untuk arloji Timex saya tersebut. Pilihan jatuh kepada kios yang tidak begitu besar milik pribumi. Lalu jam saya serahkan ke si penjaga kios untuk diganti baterainya. Namun dalam hati waktu itu kok ada perasaan nggak enak, lalu bergegas saya bertanya: "Kang, harganya berapa baterainya?" "Rp. 15.000,-, pak". Aku terkejut bukan main. Disangkanya saya nggak pernah beli baterai kancing CR-2032 kali. Di toko langganan saya di pasar Cihapit milik non-pri harga baterai tersebut cuma Rp. 6.000,-. Saya merasa tertipu dan 'ditodong' ingin deh rasanya waktu itu saya marah dan mukul itu orang tapi syukur saya masih bisa mengendalikan diri. Lagipula baterai baru sudah dibuka dari kemasan dan akan dimasukkan ke dalam arloji. Tapi sebagai pelampiasan saya berkata dengan ketus ke si penjaga kios, "Asal tahu aja ya kang, di toko langganan saya di Cihapit baterai kayak gitu cuma Rp. 6.000,-". Si penjaga kios tidak menjawab, rupanya dia merasa bahwa saya tidak mudah 'dikibulin'. Setelah selesai memasukkan baterai, ia menyerahkan jam tersebut kepada saya, namun saya lihat pekerjaannya kurang rapih, terlihat benar pergelangan jamnya tidak masuk benar ke tempatnya. Kesempatan ini saya gunakan untuk sedikit mendamprat dan menyindir dia, "Kang, gimana nih moso pergelangannya belum masuk bener nih, udah mahal nggak rapih lagi kerjaannya" kataku. Si penjaga kios lalu membetulkan pergelangan jamnya dan mengembalikannya ke saya sambil berkata "Udah pak, Rp. 10.000,- aja, tapi jangan marah ya pak!". Saya yang masih agak dongkol langsung membayar dan pergi meninggalkan kios tanpa mengucapkan terima kasih atau apapun!
Sekarang saya ingin bertanya (mudah-mudahan dapat terjawab di dalam e-ta'lim kita nanti hehehe...) bagaimana sih etika bisnis dalam Islam? Apakah 'dibenarkan' dalam Islam untuk mengambil keuntungan setinggi-tingginya? Memang seperti yang pernah saya baca di salah satu kolom tanya jawab di eramuslim.com di sana pernah dikatakan bahwa dalam Islam dalam mengambil keuntungan itu tidak ada batasannya artinya boleh mengambil keuntungan sebesar-besarnya, apakah itu 2x, 3x atau bahkan lebih. Tapi pertanyaannya sekarang adalah apakah dengan pedagang itu mengambil keuntungan yang besar itu dapat disamakan dengan menipu? Ok lah....mungkin jawaban yang lumayan baik adalah, itu tergantung dari niat! Kalau niatnya mengambil keuntungan itu namanya bukan menipu, tapi kalau niatnya menipu itu baru namanya menipu. Ok lah.... tapi bagaimana dari sudut pandang pembeli?? Seperti kasus saya di atas?? Saya benar-benar merasa tertipu terlepas dari niat si penjaga kios! O iya... pertanyaan saya di sini terlepas dari konsep market competition di mana kompetisi di pasar akan cenderung menstabilkan harga pasar. Saya hanya ingin tahu dari sudut pandang Islam. Mudah-mudahan inshallah saya akan mendapatkan jawaban yang baik dan memuaskan. Amin. Jangan sampai ada kesan kok orang-orang Islam dalam berdagang maunya 'menipu' sih.
Wassalamu alaikum wr. wb.

Friday, April 6, 2007

Between the Petronas Towers and the Burj Dubai

The Petronas Towers in KL, Malaysia

Burj Dubai in Dubai, the UAE

If you look at those two pictures above, you would know that those two skyscrapers are the world's tallests. The Petronas Towers (452m) are the past world's tallest building in the world while Burj Dubai (810m) is the future world's tallest building in the planet. Burj Dubai will be completed circa 2008. The world's tallest building today at the time this article is written is Taipei 101 (509m) in Taipei, Taiwan. Actually The Mubarak Tower (1001m) in Kuwait City will be the next tallest building in the world, the only building in the planet that hits the mark of kilometer, but the tower is only still proposed.

As a Muslim, of course, at first if I looked at those two buildings I would be proud of them. Because those two are built in the 'land' of the muslimin. But soon my pride of them began to fade away as the bitter fact came to surface. What was that? It all began when I watched the National Geographic Channel's (NGC's) Mega Structures which tells us about the large or unusual man-made constructions in the world. One of the episodes is about the Petronas Towers in KL, Malaysia. In the episode, the proccess of constructing the towers is revealed completely and in an awesome detail. But as the show rolled on, I became so surprised and a bit disappointed to realise that Petronas Towers are impossible to be completed without the hands of western engineers! The episode has also left strong impression that the toughest jobs of the engineering can only be done by the western engineers with their technologies! I was so saddened then I asked myself "Are there no muslim engineers who can build such huge enormous towers?" "Are we so backward that we cannot build anything big and important in this world?". The case is also true for the Burj Dubai. In the next episodes I found the 'solid' facts through the episodes that those all magnificent and out-of-this-world structures in Dubai like Burj al-Arab, The Palm and The World involving loads of top-notch western know-hows and state-of-the-art western technologies! pitty us!

Well, as I am not an engineer nor a scientist, all I can do is to call upon the bros and the sisters to open a new frontier of jihad! A new frontier of jihad?? Yes let's establish a 'holy war' against our own backwardness! Let us outskill or outdo them in science and technology instead of killing them or killing the innocent people! That would bring Islam to the glory, and any deeds that can bring Islam to the glory could be called Jihad I think. And inshallah, Allah will reward us for doing such jihad. And inshallah if we can bring Islam to the glory, we will also gain respects from all the corners of the world!

That's it for tonight! Wassalamu 'alaikum wr wb


Wednesday, April 4, 2007

Di antara anggota DPR(D) dan Yusril Ihza Mahendra

Melalui artikel ini kembali saya akan meng.....GHIBAH!! Horeeee.... hidup ghibah! Biarin lah meng-ghibah juga, masih lebih baik mengghibah daripada korupsi, dapat duit haram apalagi ditambah munafik! Ya nggak?? Memang kebetulan tema artikel saya kali ini tentang anggota DPR(D) dan juga mantan (atau masih?? nggak tahulah... emang gue pikirin!!) menteri kita Yusril Ihza Mahendra! Wah ada apa tuh dengan mereka? Begini nih.....

Kita tentu telah mendengar akhir-akhir ini lewat media massa bahwa anggota DPR(D) kita mendapat jatah laptop! (Dulu bonus duit telekomunikasi atau apalah sekarang jadi dapat laptop mereka!) Waaah.... asyik dong ya?? Saya juga mau tuh! hehehehe...! Tapi kok aneh ya? Anggota DPR(D) yang notabene kebanyakan orang-orang berduit kok dikasih laptop ya? Apa mereka nggak mampu beli laptop?? Kenapa saya yang 'miskin' kok nggak kebagian ya?? (hehehe... emang siapa yang mau ngasih lu laptop, lagi!!) Eh, salah deh..... saya juga bisa kebagian laptop, tinggal minta boss aja, boss gue sayang kok sama gue...hihihi....Tapi sayang..... saya malu tuh minta sama boss, dikasih aja saya malu kok (walaupun dalam hati mau!) apalagi kalau saya tidak bisa menunjukkan prestasi saya di kantor. Malu deh udah berkumis seperti ini masih minta boss, malu deh gue sama kumis gue hehehehe. Kalau begitu ya udah deh, biarkan saja para anggota DPR(D) itu dapat laptop mudah-mudahan kinerja mereka tambah baik walaupun dari pengalaman yang sudah-sudah (dan cukup sudah!) penambahan-penambahan bonus-bonus yang diberikan kepada para anggota DPR(D) tidak pernah menambah prestasi dan kinerja mereka. Apalagi cuma dikasih laptop tuh! buat apa?? Lha wong rata-rata mereka belum tentu lebih pintar dari saya dalam menggunakan komputer kok. Paling-paling yang mereka gunakan hanya MS-Word dan sedikit MS-Excel, itu juga paling-paling bisanya cuma operasi aritmatika dasar dan juga pengurutan data berdasarkan abjad atau numerik. Paling-paling cuma itu! O iya mungkin ditambah Windows Media Player atau program multimedia player lainnya untuk mendengarkan musik-musik mp3 atau menonton video-video porno! Malah kabarnya di beberapa daerah yang sudah menjalankan program laptop untuk para anggota DPRD ini, laptop-nya udah ada yang rusak! Wah mubazir amat tuh! Daripada membelikan anggota DPRD yang tak berguna itu laptop, mendingan anggarannya dibuat untuk beli komputer untuk sekolah-sekolah tertinggal dan universitas-universitas negeri. Kasihan tuh banyak siswa-siswa atau mahasiswa-mahasiswa yang berprestasi tapi tak mampu beli komputer sehingga harus berdesak-desakkan di rental komputer atau harus pergi ke rumah temannya yang mampu. Kan lumayan tuh?? Hitung-hitung untuk investasi ikut membuat generasi muda yang bermutu untuk masa depan. Eh, omong-omong saya mau dong jadi anggota DPR(D).... enak fasilitasnya banyak...saya jadi iri deh....hihihihihi.... eh tapi nggak bisa ya?? Soalnya benar nggak sih, anggota DPR(D) harus berijazah S1?? Ya udah deh..... saya mau beli ijazah S1 aja dulu..... di UNPAD dijual nggak ya?? Kalau ada mau beli dong! berapa ya kira-kira harganya kalau ada?? hehehehe....

Oke, sekarang kita pindah bahan ghibahan dari para anggota DPR(D) ke Yusril Ihza Mahendra! Saya ingat dulu di akhir tahun 1990an dan awal tahun 2000an, si Yusril ini sering tampil di televisi dan ikut memberi ceramah-ceramah agama di televisi. Dulu saya mengira, wah tipe orang seperti ini nih yang diperlukan oleh negara, muda, cerdas (minimal berpendidikan formal lah... meskipun bahasa Inggrisnya masih bagusan gue!), simpatik (bukan SIMpanse PAkai baTIK lho!) dan kelihatannya ini orang mengerti benar masalah agama! Eh, nggak tahunya sekarang ternyata dia doyan juga sama duit haram! hihihihi.... Menurut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), harta kekayaan si Yusril ini sejak jadi menteri harta kekayaannya membengkak 3 kali lipat jadi sekitar Rp 6 milyar,-. Wow. Menurut rumus matematika yang paling canggihpun dengan gaji seorang menteri nggak akan mungkin hartanya dia akan bertambah sebanyak itu! Apalagi si Yusrilpun ternyata tidak bisa menjawab darimana kebanyakan hartanya itu berasal. Nah lho! KPK mencurigai Yusril jadi tempat 'penampungan' sementara harta dari keluarga Cendana yang berasal dari BNP Paribas di London (kalau nggak salah!). O iya.... kata seorang ibu-ibu muda berjilbab, orang tua dari teman anak saya, yang dari dulu nge-fans banget (atau tepatnya mungkin naksir kali ya, tapi nggak kesampaian hihihihi....) sama si Yusril, memberikan pembenaran dengan alasan sederhana: "Lah, Yusril kan juga manusia!). LHA IYALAH, sama gue juga manusia yang doyannya mengghibah (tapi mengghibah yang kenyataan bukan yang fitnah). Hehehehe.... udah mengghibah bangga lagi ya? Biarin deh... daripada udah korupsi masih cuek pula.... apalagi masih sok suci! Duuuh!

Menurut saya ini adalah kesalahan falsafah hidup orang Indonesia secara tak langsung di mana status sosial masih semata-mata diukur berdasarkan nilai uang yang dimiliki, bukan berdasarkan ukuran dari mana duit itu berasal, atau bukan berdasarkan pekerjaan apa yang ia lakukan. Di Swiss atau Austria, seseorang yang mendapatkan kekayaan dari jalan korupsi dianggap sangat hina betapapun ia kayanya. Dan menurut survey di Jepang dan di AS yang saya pernah baca (tapi lupa di mana), kebanyakan masyarakat menilai seorang dokter jauh lebih terhormat daripada menjadi seorang pengusaha, walaupun mungkin menjadi seorang pengusaha bisa jadi jauh lebih kaya dari seorang dokter. Itu mungkin karena profesi seorang dokter yang dekat dengan penyembuhan orang sakit dan juga kenyataan bahwa menjadi seorang dokter lebih sulit daripada menjadi seorang pengusaha. Dengan modal duit Rp 10 juta,- misalnya mungkin anda sudah bisa menjadi seorang pengusaha tapi dengan duit tersebut belum tentu anda bisa menjadi dokter. Nah, di Indonesia ini status sosial kebanyakan masih dihitung hanya berdasarkan nilai uang yang dimiliki, jadinya ya banyak seperti Yusril-Yusril di negeri ini, yang penting kaya (asal jangan kaya(k) monyet!), nggak penting itu duit halal apa haram!

Ok deh, untuk para sisters dan brothers yang membaca artikel saya ini. Konklusi saya adalah, saya bukannya ingin mengajak sis dan bros untuk mengghibah seperti saya. Ya nggak lah. Bagaimanapun juga perbuatan mengghibah itu sesuatu perbuatan yang negatif dan tentu saja dapat bersifat merusak atau dekonstruktif, tapi saya ingin menunjukkan bahwa banyak hal-hal lain yang jauh lebih merusak dibandingkan dengan sekedar ghibah, seperti korupsi dan munafik! Saya senang jikalau ada dari bro dan sis yang memperingatkan saya kalau saya sedang mengghibah, tapi saya lebih senang lagi kalau tindakan para bro dan sis tidak berhenti sampai di sini. Mudah-mudahan para bro dan sis pun juga berani menegur dan mencegah orang-orang di sekitar bro atau sis yang melakukan 'korupsi' di kantornya walaupun itu kecil-kecilan. Jangan malah ikut-ikutan, malah sampai ikut-ikutan nge-mark-up segala!!! Ok?

Wassalamu'alaikum wr wb.

Tuesday, April 3, 2007

A new moon in a lunar calendar


It was May 2004, in the small hours of the day, I was watching a fabulous tennis match live from Rome, Italy. I remember on the court it was Germany's Tommy Haas taking on the American Andy Roddick. If you know tennis rules, you realise that there is always a break in every other game. That's the time for the TV station to air the commercials! But in one of the breaks, it wasn't the commercials that appeared on the screen, it was something else that's really beautiful. It was a live view of a total lunar eclipse! Unlike a total solar eclipse which always gives a dark image to the solar disk, the lunar disk is not dark during a total lunar phase. The body of the earth that eclipsed the moon will make the lunar disk appear reddish during the total lunar eclipse due to the earthshine effused by the atmosphere of the earth! It was very beautiful! As I watched the picturesque view of the eclipse on the television I again began to admire the creator of the solar system and the universe where our abode of planet earth abides! So I don't want to talk about tennis in this article, but I would really like to write about the moon and the lunar calendar. Again I would have to remind you, that this article is only written by a layman at astronomy for it is not a scientific article.

We realise that a lunar calendar like our Hijri calendar is totally based on the lunation. It means that the Hijri calendar runs in accordance with the orbit of the moon around the earth. The hottest issue in Hijri calendar is how to make sure that a new month has already started or not because unlike the Jewish calendar (which is based on the lunation as well) which every new month has been fixed exactly and mathematically to the certain astronimical event called 'the new moon', the Hijri calendar still depends on the sighting of the 'first moon'. And there are no exact mathematical formulae to fix or to support this event, the only way to spot the first moon is to scan the western horizon of the sky either through unaided eyes or through the optical instruments! The difficulty factor of spotting the first moon is intensified as the sky is overcast or if your sightline is impeded by the city skyline!
Now what is the 'new moon'? And how is it different from the 'first moon'? The new moon is an astronomical event when the moon is located between the sun and the earth. In this phase, the moon is impossible to be viewed from the earth since the dark (unilluminated) disk of the moon is facing the earth, moreover the rise and the set times of the moon are approximately the same as those of the sun's (FYI, each day the moon rises and sets about 50 minutes later than it did in the previous day), making it more difficult (impossible) to spot the moon in the sky at this phase for the sun would outshine the moon. The first moon is a visual event rather than an astronomical event. It is the event when you can spot the moon for the first time in the sky since the new moon. Thus, there is a substantial difference between the new moon and the first moon. Amongst muslim scholars themselves, the decision on when a new month begins is still a controversy. Some scholars agree that the beginning of the new month is signified by the first moon, which has been kept since the time of rasulullah saw. But some other scholars think it otherwise, they agree, with the aid of modern computers, that the new month can be approximated without having to wait for the first moon to appear. They stick to the supposition that each time the moon has passed the line between the sun and the earth, then the new month has also taken place, as simple as that!
Confused?? Hahaha... don't worry you are not alone. Actually this explanation will be a lot easier to be understood if it is supported by illustrations or animations. I do have a Flash animation concerning the lunar phases yet I have difficulties in incorporating it into this article. I have no idea why.... the Flash file was well fed into the system apparently and I met no problems when I inserted the HTML codes but strangely as soon as it started, the Flash files ceased to animate! Well, it is not anybody's fault. Let's forget about it and go back to our main course. For the conclusion of this article I would give you the easiest part to understand, a lunar month will not have more than 30 days nor less than 29 days since the lunar revolution around the earth takes about 29.25 days! It is very simple. See?
Wassalamu alaikum wr wb.

Monday, April 2, 2007

I'm thinking to myself, what kinda blog will it be?

Since I started this blog off, I have been trying to compare what I have written and what I am writing with the peers of others'. This is for me very necessary since my blog will be viewed and reviewed by others especially by my bros and sisters in Islam! So, since the day one of this blog I have been trying to adjust what I am going to write to suit their taste and their determination. And there, I jumped from one blog to another to read between the lines what they like to read. So after visiting many blogs of my fellow bros and sisters, I have a conclusion what they like to read from someone's blog!

In general, all of my blogs I had looked around are very very beautiful and enlightening and soon I began to think to myself: "I should build one like these blogs" firmly and determinately! Soon after, I began to write an article for the blog, and for the first ten sentences it seemed that I found nothing that got in the way. But as the writing rolled on and went beyond the tenth sentence I began to meet a huge stumbling block that prevented me from writing any further. My mind was blank and I felt like a toddler who has to write his first letter! So I didn't know where to go from there. Fortunately apart from the blogging matters, I could still think clearly and rationally so I started to collect my mind, breathed deeply, and eventually thought what had gone wrong with the first ideas I had found earlier. Where were they gone? As I began to successfully relax myself and gained a full control over my mind, I realised why I couldn't carry on with the previous ideas, and why I couldn't start it from their (my bros' and sisters') blogs. Soon afterwards I began to make a list of the whys, do you want to know? Here they are:

1. My faith and my knowledge in Islam is not very good. That's why I think I cannot write something that's very Islamic, unlike the other blogs I had seen.
2. Though I agree that unoriginal postings can be very beautiful and very informative, I personally don't like to write a prefabricated article. If I have to write a prefabricated article inshallah I will try to write it by my own efforts and by my own words, not just simply applying a copy-and-paste stuff in my article! Well, don't take me wrong, it means, I mean, it MEANS that I just don't like to write a prefabricated article, and it doesn't mean that I dislike to read copy-and-paste articles! Yes, I still like to read ready-made articles posted by my bros and sisters somewhere!
3. I am always to be honest to everyone especially to myself even in this virtual world! That's why sometimes I would raise some unusual topics! If you had read my previous articles you would see some of them bring in odd topics! Even in some of articles I didn't hesitate to include 'improper' materials and phrases such as, same-sex love, fornication, etc. in a straight-ahead manner!

Given the points above, to all of my dear sisters and brothers, I would like to apologise if you found something ugly or offensive in my articles, and I can understand if you consider those articles not worth viewing. Again, I would like to be honest to you, I need more criticism to improve my writing in the future. For me, personally and honestly, harsh (but intelligent) criticisms are more welcomed than just phoney compliments! Ok? hehehehe ;))

Wassalamu alaikum wr wb