Saturday, June 30, 2007

Room 13: Penutur Bahasa Urdu yang menyebalkan !!

Ini masih ada sedikit kaitan dengan postingan saya sebelumnya tentang room 13 Islam. Kita tahu bahwa akhir-akhir ini di room 13 terutama pagi hari WIB, sering dipenuhi oleh para booters yang mencoba memblok room tersebut dengan cara login dengan multi ID, agar room penuh dan tidak ada chatter yang bisa masuk room tersebut. Memang sungguh menyebalkan! Tapi bukan hanya para booter tersebut yang bikin sebal saya (dan mungkin anda juga), tetapi para penutur bahasa Urdu juga tak kalah menyebalkannya! Lho? Ya betul! Begini masalahnya:

Sebenarnya saya adalah orang yang toleran, orang mau bicara apa saja dalam bahasa apa aja silahkan asal jangan menyinggung pribadi saya atau menyinggung apapun yang berhubungan dengan saya (tentu saja semua orang juga pasti setuju dengan pendapat saya). Nah, sebenarnya saya tidak keberatan orang-orang Pakistan (dan sebagian orang India) itu menggonggong dalam bahasa Urdu, tapi yang bikin menyebalkan adalah mereka sering merasa terganggu kalau kita bicara dalam bahasa Indonesia, sementara mereka sendiri ramai mengembik dalam bahasa Urdu! Terutama chatter yang bernama SAM AHMAD, yang sampai meng-ignore2 orang yang bicara pakai bahasa Indonesia, padahal dia sendiri seringkali meringkik dalam bahasa Urdu! (Meskipun di-ignore sama seekor penutur bahasa Urdu sama sekali tak berpengaruh pada keceriaan berchatting di room!), saya heran, orang-orang Inggris atau Amerika yang berpendidikan saja tak akan berani bersikap seperti itu (contohnya lihat sis loretta, sis omniscent_love, dsb. mereka tak pernah bersikap kekanak2an seperti itu, Jikalau ada orang yang mengaku dari Amerika/Inggris yang mempunyai sifat kekanak2an seperti itu, bisa dipastikan dia pasti imigran dari Pakistan atau sekitarnya atau 'the haters' murni!), moso cuma sebatang penutur urdu yang notabene hanya orong-orong (eh maksud saya orang-orang) Pakistan yang lebih 'hina' mau coba melarang kita2 yang berbahasa Indonesia. Memang siapa yang mau belajar bahasa Urdu?? Bahasa Perancis, Jerman atau Jepang sih boleh-boleh aja dipelajari, tapi bahasa Urdu?? Siapa yang mau!! (Mungkin bro knoppix mau ya! hehehe....!!). O iya untuk klarifikasi, dan untuk obyektivitas, tentu tidak semua penutur Urdu bersifat demikian, ada juga sih yang bersifat toleran. Untuk diketahui pula bahwa saya (dan juga penutur bahasa Indonesia lainnya) tidak pernah keberatan mereka berbahasa Urdu, karena kita mengetahui bahwa apapun yang mereka bicarakan dalam bahasa Urdu, pasti temanya gombal semua!! Hehehehe...!!

Ok deh, bagi penutur bahasa Urdu mudah-mudahan hati mereka terbuka bahwa di dunia ini banyak terdapat berbagai macam bahasa! Sehingga hati mereka tidak tertutup terus, nanti kalau tertutup terus lama-lama hati mereka bisa jadi burdukan lho! Hehehe...!! Bukankah Islam juga mengajarkan toleransi dan menerima kenyataan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dengan berbagai macam kebudayaan termasuk bahasanya??

Wassalamu 'alaikum wr wb

Thursday, June 28, 2007

Celebrating a year in room 13

It was June 21, 2006 and everyone was frenzied by the World Cup in Germany. I was waiting for a world cup match, I have forgotten which match it was, but the match was played at the small hours of the day. To fight the drowsiness that had begun engulfing me, I turned on my pc and started looking for a chat online. It was my serious search for a chat since three years before, after I decided to leave my regular room at mIRC for good since my favourite room was closed down. I remembered at that time that my friend told me that I should try YM or IM. But my choice fell to YM. Soon after I successfully downloaded the thing, I installed it in a snap. Then I began to search for a suitable room. At that time I didn't have any specific stop where I must chat, but voila there came an idea that I should choose the number 13 somewhere! Being a Muslim (though I have never admitted that I am a good Muslim), I came to decide that I would single out room 13 of Islamic chat. As I managed to enter the room, I saw people having so many in-group conversations. I encouraged myself to butt in within a conversation and I was a bit surprisingly greeted and answered very well in the conversation. In no time, the conversation flowed smoothly and friendly but I don't remember with whom exactly I had the conversation with. But after that chat session, I began to rediscover my affection towards online chatting!

A few days later I began to identify some monikers in the room. Sis Gaia, bro pat, bro knoppix, sis dee are my fellow countrymen/countrywomen whom first I knew. Sis frag is a Malaysian who once rejected my moniker 'kingtut_di_celana', and sis loretta_edinger, a Texan woman who is married to an Iranian but claimed to remain catholic with a trait of atheism, johngvanvliet, a Canadian evangelist, were also the first persons whom I met in the room.I still remember the first time I chatted with (the old) sis dee, we argued over our former dictator Soeharto, she tried to defend her opinion that we should thank Soeharto to some degree for bringing in prosperity and rapid development in the past, no matter how tyrannical he was. And I stayed with my own opinion that the rapid development introduced by Soeharto in the past was merely based on his own self-indulgence, to nourish his nepotism and his own entourage. But fortunately the arguing dialogue did not grow into a hostile face-off. I think back of bro knoppix too, whenever he was asked about his location, he always came up with the answer 'Cape Town'. It seemed that he was reluctant to let us know where he is. But eventually we managed to know that he lives in the same city with me! The reason behind this attitude remains unclear until now, showing lack of esteem on his own root! I also do remember him when he talked in many languages with people with various languages. Initially I presupposed that he had the capability of speaking many languages, but soon I found out that he could not speak those languages beyond some simple phrases!! And Bro pat, the one with a thousand monikers, often tricked the people with his unprecedented IDs, and so many more chatters whom I know with his/her own characteristics!

Now a year later after I first joined the room, I have had many regulars to chat with whom I know through the room 13. But the room itself is becoming disagreeable since the bots and the booters overpopulated the room. I actually don't care about the room, what I should care is to maintain the friendships that have long been nourished since the day one of my presence in the room!

Wassalamu alaikum wr wb

Wednesday, June 27, 2007

Blogku yang semakin tidak Islami !!

Ketika pertama kali blog ini dibuat, sebenarnya saya sudah mempunyai 3 buah blog, yaitu masing-masing di freewebs, ifrance dan satu lagi juga ada di Blogger ini. Namun ketiga blog tersebut terus terang saja isinya kurang terorganisir dan isinya sangat tidak Islami. Isinya adalah gado-gado antara foto-foto pribadi, pengalaman pribadi, dan ada juga ehmmm cerita-cerita pendek karanganku sendiri yang terkadang 'ngeres' yang rasa-rasanya kurang pantas ditunjukkan kepada sister-sister yg 'alim-alim' di room 13 Yahoo!. (Cerita 'ngeres'nya 200% gombal abis!!). Nah untuk itu saya membuat blog ini dengan harapan blog ini akan menjadi lebih baik dan lebih Islami daripada ketiga blog saya sebelumnya. Namun apa jadinya blog ini setelah tiga bulan berjalan?? Ternyata semakin jauh panggang dari api! (eh bener ya pribahasanya?), meskipun blog saya yg satu ini masih jauh lebih baik (sopan) dibandingkan ketiga blog saya sebelumnya.

Lantas apa tanggapan saya sendiri mengenai blog saya ini setelah mengetahui blog saya menjadi tidak Islami?? Sejujurnya, EGP !! alias: Emang Gue Pikirin!! Kalau ada kontest blog paling tidak Islami bagi para chatter Indonesia + Malaysia di room 13, tentu saya sudah jadi juara pertamanya! Dan jikalau ada tropi/penghargaan blog yang tidak Islami bagi para chatter room 13, pasti tropi tersebut sudah saya terima dengan... PERASAAN BANGGA !! Lho? Bangga karena kurang Islami? Tentu saja bukan!! Bangga karena saya berhasil menjadi saya apa adanya! Tanpa kemunafikan dan tanpa kepura-puraan! (Tentu saja yang berhak menilai secara absolut hal tersebut hanyalah Allah swt). Saya menyadari bahwa saya kurang pandai dalam ilmu agama dan saya tidak akan menutup-nutupi hal tersebut. Sayapun menyadari bahwa saya tidak akan menutupi 'kelemahan' saya ini memenuhi blog saya dengan copy-paste baik itu berupa tulisan-tulisan ataupun gambar-gambar islami apapun. Saya memang tidak suka membaca blog yang isinya hanya tulisan-tulisan dan gambar-gambar 'bajakan' (kecuali gambar/foto karya sendiri) dari sana sini. Menurut saya blog semacam itu hanyalah sampah! Andaikan saya harus mengcopy-paste bahan dari luar, tentu pertama saya akan sebutkan sumbernya dan kedua tentu akan saya hiasi copy-paste tersebut dengan opini saya sendiri, meskipun opini saya mungkin tidak terlalu bagus! Lho, copy-paste kan penting juga untuk share sesuatu yang baik-baik?? Dan juga share yang baik2 itu perlu juga disiarkan tanpa memandang apakah itu 'bajakan' atau bukan?? Tidak salah juga prinsip seperti itu! Namun sebaiknya kita juga menghargai/mempertimbangkan juga prinsip-prinsip yang lain! Pertama hargailah karya orang lain dan kedua janganlah 'menipu' pembaca-pembaca lain seolah-olah ia adalah orang yang 'pintar' dalam beragama atau dalam hal apapun (padahal kesehariannya??). Andaikan ingin menyebarkan kebaikan, ya tinggal ditulis saja link ke page tersebut! Saya tidak butuh copy-paste-nya, dan anda juga tak perlu capek2 copy-paste kan?? Wah, andaikan blog saya penuh dengan copy-paste, mungkin blog saya akan berubah dari penerima tropi blog paling tidak Islami, menjadi blog yang paling Islami !! Tapi saya tidak bisa begitu! Saya tidak pernah mau menutup2i kemampuan saya sendiri! Toh juga kemampuan kita akan tercermin juga dari perbuatan kita sehari2 atau paling tidak, minimal dari chatting sehari-hari, mana-mana yang sama sekali bodoh, mana2 yang hanya pintar mengaji tapi tidak tahu apa yang dibaca, mana yang berakhlak dan pintar mengaji, Mana yang cuma pintar beakhlak tapi tak bisa mengaji, dll. Yah, masing-masing menilai sendiri2 deh!

Ok. Sepertinya kalau saya menulis terus, temanya bisa berkembang luas deh. Untuk itu sementara saya akhiri dulu sampai di sini. Lagian saya juga sudah capek mengetik.

Wassalamu 'alaikum wr wb.

Sunday, June 24, 2007

Wimbledon is coming......!!

Wimbledon is already around the corner! I always wait for this tourney each year. This is the pinnacle of the whole tennis tournaments. I don't know why Wimbledon is considered the 'best' tournament amongst any other Grand slams, maybe because it is the oldest Grand Slam which go back as early as 1877. In this year's tournament, in the gentlemen's section, Roger Federer will grab the title for the 5th time in a row. While Rafael Nadal and Andy Roddick will vie for the other spot in the final. In the ladies' section the title is still open equally for Maria Sharapova, Amélie Mauresmo and Justine Henin with the Wiiliams sisters are lurking to seize a spot in the final.

Well I don't want to write a prolix posting for this matter. Let's see who will bring the trophies home. And for the next two weeks I think I will stick my butt on my sofa like a couch potato to enjoy the live coverage of Wimbledon!

Tuesday, June 19, 2007

Satpam vs Sarjana Komputer

Pada saat posting ini dibuat, saya tengah 'perang blog' dengan sepasang suami istri. Si suami dan si istri itu masing-masing mempunyai blog sendiri-sendiri, kedua-duanya adalah sarjana ilmu komputer dari UGM. Si suami bekerja sebagai Auditor Sistem Informasi di firma Ernst & Young sementara si istri bekerja sebagai Database Administrator di Jakarta (perusahaannya tidak dia sebutkan, egp!). Awal mula kejadiannya entah bagaimana, tetapi yg saya analisa mungkin berasal dari komentar saya di sebuah blog (bukan di blog milik salah satu suami istri tersebut). Topik yg saya komentari mengenai "Presentasi dalam bahasa Inggris". Dan saya berkomentar di posting tersebut begini: "Bahasa Inggris memang penting tapi bukan yang paling penting, jika anda mempunyai skill yg sangat baik, maka anda mungkin tak perlu berbahasa Inggris dng baik. Sebaliknya jika skill/prestasi anda hanya sebatas di atas kertas ijazah saja, maka bahasa Inggris dpt membantu baik dalam karir ataupun pergaulan. Karena saya melihat banyak sekali sarjana2 Indonesia yg sudah prestasi/skill-nya cuma sebatas di atas kertas ijazah saja, bahasa Inggrisnya kacau pula!".

Nah, mungkin awal pertempuran 'blog'nya mulai dari situ! Sebenarnya di antara kita bertiga, masing-masing sudah saling membaca isi blog masing2 sejak agak lama. Meskipun mereka tidak pernah meninggalkan komentar di blog saya (blog yang di ifrance.com) dan sayapun hanya sekali meninggalkan komentar di blog sang suami. Nah entah kenapa, mungkin karena tersinggung dengan komentar saya di atas karena mungkin mereka kurang pandai berbahasa Inggris (kok agak norak ya!, komentar begitu aja tersinggung!), sang suami lalu membuat sebuah posting yg berjudul "Apakah keselamatan kita hanya dijamin oleh satpam yg hanya digaji Rp. 600 ribu". Nah di situ ia menulis mengenai kebobrokan kerja para satpam, dan ia juga menulis bahwa di real estate tempat dia tinggal, satpamnya masih bekerja tidak becus padahal iurannya sudah naik. Dan puncaknya ia menyinggung bahwa di Bandung ada seorang security yang mahir berbahasa Inggris yang dibayar mahal oleh orang asing namun katanya belum tentu performansinya lebih baik dari security yang dibayar kecil!

Sebagai orang yg bekerja di bidang security (mereka tahu itu), saya curiga bahwa tulisan itu mungkin untuk menyindir saya balik namun saya masih berperasangka baik pada awalnya, "Ah mungkin itu belum tentu untuk saya sindirannya". Nah untuk mengetahui apakah itu menyindir saya atau bukan, saya balik membuat posting yg temanya cukup provokatif yaitu "Perlukah sekolah sampai sarjana hanya untuk belajar ilmu komputer?" Di sini saya menyindir mengenai kemampuan2 banyak (meski nggak semuanya) sarjana2 komputer Indonesia yg kemampuannya nggak lebih dari ahli komputer lulusan kursus/lembaga pendidikan komputer (LPK)! Hal itu didukung dengan pengamatan saya yg banyak menemukan mahasiswa2 informatika ITB yg kos dekat2 rumah saya yang kemampuan teknis komputernya nggak jago2 amat! Bahkan ada yg nggak bisa merakit komputer sendiri!! Mereka hanya tahu berbicara masalah filosofis-filosofis sebuah sistem (tanpa mengetahui bentuk konkrit dari sistem itu sendiri), namun kemampuan teknis mereka tidak beda jauh dengan yang lulusan LPK. Mereka suka berdalih bahwa para lulusan informatika bukan lagi dituntut sebagai programmer atau perakit komputer tetapi banyak sebagai pembuat sistem dan penganalis sistem! Wah, sungguh alasan yang sangat filosofis! Mereka nggak tahu bahwa sayapun sebenarnya pembuat sistem, yaitu sistem sekuriti mulai dari letak CCTV, sistem penerimaan tamu, training para satpam, menghitung jumlah optimal satpam yg dibutuhkan untuk sebuah gedung dalam satu shift, bahkan hingga sistem absensi para sekuriti yg melibatkan teknologi canggih seperti komputer, scanner sidik jari, dsb! Hihihihi.... sama-sama sistem kan?? Emangnya cuma dia aja yang bisa bikin sistem! Hehehe....

Nah rupanya umpan yang saya buat itu mengena! Si istri (berjilbab pula! Tapi tidak pengaruh, mau jilbab atau tank-top, kalau mau perang blog ya silahkan kita 'sikat' aja!! hehehe...) meninggalkan komentar di posting saya yg tak ada hubungannya dengan artikel saya tersebut. Ia bercerita bahwa di tempat real estate budenya satpam penjaga gerbang malah berteman dengan preman yang kadang-kadang memeras budenya. Nggak tahu benar apa nggak. Tapi yang jelas saya balas meninggalkan komentar di blog sang suami dengan komentar begini: "Kalau seseorang tidak percaya bahwa jikalau kenaikan iuran keamanan tidak menjamin para satpam bekerja lebih baik, itu juga sama dengan menyewa seorang programmer komputer! Semakin tinggi sewa seorang programmer, belum tentu kinerja sang programmer menjadi lebih baik! Belum tentu program yang dibikinnya akan lebih bebas dari 'bug' atau 'glitch' ", ya nggak?? Hehehehe.... simpel aja deh logikanya tapi mengena! :D

Nah, pertempuran untuk sementara sampai di situ. Mungkin perang blog ini akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan! Mungkin besok2 si suami atau si istri akan membalas dengan membikin komentar di blog saya ataupun akan membuat posting baru yang menyerang saya. EGP!, mau perang blog?? Saya siap melayani......!! hehehehe

Wassalamu alaikum wr wb

Friday, June 15, 2007

Showy Corner, Shabby Toilet!

This afternoon after returning from the mosque, one of my officemate came to my house to claim the souvenirs I brought from Spain. LOL. Actually he was on the way to the campus to return some books to the library. Yes he is still in his graduate study to get his MSc title from ITB. After we had a fun and pointless chitchat, he asked me to accompany him to the library and he wanted to show the new Internet quarter that has been recently built to enhance the information system quality in the one of the most respected libraries in the city. Well, being interested in so many things (especially ones that are associated with information technology), I could not turn down his offer. So in no time we had already hit the road to head for the library in his campus.

Soon after we arrived there, I could see a library with the luxurious building (much of extravagant one!) with modern architechture though it also comes with some tacky touches in some way. As we entered the door I began to sense murky atmosphere in the library. The front hall is dim, not enough light to cheer up the readers and the visitors. But as I stepped onto the next door to enter the main hall, the illumination is much better and I could see a long bar with some people behind it, it seems that it is where the people deal with the paperworks when they want to borrow or return the books. So my friend went there and he told me to look around, and he asked me to try the net connection at the new Internet corner. Well I was in no mood to try the net connection, but I was curious to know what to offer from the leading library in the town. So I began my observation with the Internet corner, I walked into the quarter and I could see a modern facility of the Internet connection with all LCD displays ready to take you to the virtual world. The quarter itself is clean and completely in order. Then suddenly another corner in the library caught my attention. It says right there 'American Corner'! Wow what is it all about, the American Corner?? Then I paced to the corner, it was dark inside! I could only see desks and cabinets but nobody was there and the quarter itself was locked! Wow... what does an American Corner do in this library? What does it offer?? It would have seemed very interesting if there were some activities inside, but too bad the showy corner was apparently inactive. Soon after I lost interest with the showy American Corner, I began to feel the full bladder inside me and I thought I had to empty it up. So I searched for a toilet and I saw stairs that lead to the toilet. The toilet's door was ajar, and I tried to open it.. wow it seemed that the hinge was already rusty, it's hard to open it and whenever I exerted my strength to open the door, the door always reacted with a squeaking noise! With the hard efforts, I eventually managed to open the door, but alas what did I see??? I saw a very dirty and forlorn toilet, it stinks worse than my dog's kennel and when I checked there was no water running in the toilet! Gosh! Is this all a leading library can offer?? Showy corners and a shabby toilet?? Well I can't explain anymore, You should see yourself! Adios!

Wassalamu alaikum wr wb.

Thursday, April 26, 2007

Bahasa Sunda vs. Mentalitas Sunda

Bagi orang Sunda yang membaca judul di atas, jangan naik darah dulu! Tidak ada maksud saya untuk menulis sesuatu yang SARA di sini karena SARA bukanlah sifat dari saya, namun kalau memang anda menilai bahwa artikel ini ada bau-bau SARA-nya itu mungkin karena saya memang suka mengeritik dengan pedas, bahkan terkadang sangat pedas! Oke, sebelum berkomentar sebaiknya baca dulu artikel ini sampai habis.

Ceritanya begini, sekitar 7 - 8 tahun yang lalu, saya merasa sangat geli ketika membaca sebuah iklan mini (classified) di sebuah surat kabar tentang sebuah lowongan kerja. Di sana ditulis bahwa syarat utama agar diterima bekerja adalah dapat berbahasa Mandarin! Padahal lowongan yang ditawarkan tidak ada hubungannya dengan bahasa atau penterjemah! Saya berfikir coba bayangkan andaikata semua perusahaan asing mewajibkan karyawannya untuk berbahasa ibu mereka, seperti Panasonic dan Sony misalnya, mewajibkan karyawannya untuk berbahsa Jepang, Peugeot dan Alcatel harus berbahasa Perancis, lantas Siemens AG dan BMW harus berbahasa Jerman misalnya, tentu akan menjadi sangat repot dan menggelikan! Trend zaman sekarang jika anda ingin berinvestasi ke luar negeri, beradaptasilah dengan budaya setempat atau minimal kuasai bahasa setempat, atau kalau otak tidak mampu ya kuasailah bahasa Inggris. Jangan memaksakan membawa-bawa bahasa ibu ke negeri orang! Sungguh menggelikan! Orang kaya kok agak bego ya, sayang! Namun ada lagi yang membuat saya geli. Kali ini dari iklan banner di kota Bandung yang mewajibkan karyawan Pemda di lingkungan kabupaten Bandung untuk dapat berbahasa Sunda! Lho!? Kenapa geli?? Bukannya seharusnya begitu?? Toh... mereka adalah aparat yang melayani masyarakat Pasundan, dan Kabupaten Bandung itu terletak di tanah Pasundan! Oke, saya kasih tahu! Pertama di zaman keterbukaan ini tentu banyak masyarakat yang tinggal di kabupaten Bandung bukan hanya masyarakat asli Pasundan, mereka mungkin berasal dari seluruh pelosok di tanah air ini, juga terdapat WNA yang tinggal di kabupaten Bandung. Kedua masyarakat di kabupaten Bandung ini tentunya sudah banyak yang dapat berbahasa Indonesia, toh selama ini kita punya Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan persatuan, jadi dalam segi bahasa sebenarnya tidak ada masalah. Ketiga potensi suatu karyawan jangan dilihat dari sudut bahasa saja! Mungkin saja dia tidak dapat berbahasa Sunda namun ia bisa memberikan sesuatu yang lebih bagi pemda setempat. Alangkah ruginya jikalau sampai menolak potensi yang ada hanya karena bermasalah dalam berbahasa Sunda. Jadi menurut saya, tidak perlulah dibuat peraturan aneh-aneh seperti itu, kalau mau buat peraturan aneh-aneh sekalian saja, suruh masyarakat setempat wajib menguasai bahasa Sunda termasuk WNA-nya sekalian! Kalau tidak bisa silahkan hengkang dari (kabupaten) Bandung! Atau dalam skala nasional, bikin peraturan aneh juga, yang tidak bisa berbahasa Indonesia, tidak boleh jadi WNI !! Jadi orang-orang kampung di pedalaman yang nggak bisa berbahasa Indonesia tidak boleh jadi WNI! Gimana?? menggelikan?? Tentu saja!

Sebenarnya saya sangat setuju sekali untuk melestarikan dan mengangkat bahasa Sunda agar jangan sampai dilupakan. Karena kepunahan suatu bahasa adalah sesuatu yang sangat merugikan. Namun untuk mengangkat citra suatu bahasa, harus dengan cara yang layak dan alami, bukan dengan suatu 'pemaksaan' yang menggelikan! Saya masih melihat kemunafikan dari masyarakat kita (dalam kasus ini masyarakat Sunda) dalam menghargai bahasanya sendiri. Di suatu sisi masyarakat Sunda ingin bahasanya diakui namun di sisi lain, apalagi kalau di luar masyarakatnya, banyak orang-orang Sunda yang 'malu' akan bahasanya sendiri. Ya, ini menyangkut masalah mentalitas! Contoh, sederhana!, banyak masyarakat Bandung (Sunda) yang bangga dengan istilah "Paris van Java" untuk kota Bandung. Sampai-sampai ada mal dan stasiun TV lokal (PJTV) yang menggunakan istilah tersebut! Dasar kita, maunya ikut-ikutan aja tapi tidak tahu ejaan yang benar! Seharusnya: Parijs van Java bukan Paris van Java. Udah ikut-ikutan, salah pula! Kenapa orang Bandung sangat bangga dengan istilah "Parijs van Java"? Itu karena ada kata "Parijs"-nya, yang melambangkan keindahan kota Paris yang nun jauh di seberang! Jadi yang 'dibanggakan' orang Bandung dengan istilah 'Parijs van Java' bukan kota Bandung-nya sendiri tapi kota Paris yang sama sekali tak ada hubungannya dengan tanah Pasundan! Ampun deh! Istilah peninggalan kolonial kok masih dipakai-pakai! Apa tidak bisa menciptakan istilah lain yang lebih menyunda??? Mungkin orang Sunda sendiri berfikir kalau menciptakan istilah pakai bahasa Sunda sendiri pasti kurang keren, nggak funky! Dasar mentalitas kita! O iya, terus terang saya sendiri sebenarnya seseorang yang agak Francophile yang agak 'tergila-gila' dengan sesuatu yang berbau Perancis! Rendahkah mentalitas saya?? Wah itu sih silahkan anda menilai sendiri, bebas kok! Tetapi yang jelas saya hanya meniru yang positif-positif dan berguna saja seperti belajar bahasanya dan juga mentalitas-mentalitas positif orang Perancis yang 'wajib' saya tiru! Tidak akan saya menamai anak-anak saya dengan nama Perancis seperti: Pierre, Jean, Henri, Guillaume, dan lain-lainnya. Jangankan anak-anak saya, kucing-kucing dan anjing saya aja tidak ada yang dinamai pakai nama Perancis! Hahahaha...!! Saya sangat menghargai Perancis karena negeri yang relatif kecil itu (bandingkan dengan negeri kita) telah banyak menyumbang banyak bagi peradaban dan kesejahteraan umat manusia di bumi ini. Negeri itu telah melahirkan nama-nama seperti: Louis Pasteur, Antoine Lavoisier, Pierre Currie beserta istrinya Marie Curie (yang ini orang Polandia, tapi kalau ia tidak pergi ke Perancis mungkin namanya tidak akan pernah terdengar!), Louis de Broglie, dan lain-lain. Perancis juga tempat lahirnya metric system sebuah sistem pengukuran fisik seperti meter, gram dan lain sebagainya yang digunakan luas di seluruh dunia dan juga sebagai sistem pengukuran resmi di dunia sains dan keteknikan. Perancis juga tempat lahirnya sistem kepolisian modern di dunia ini. Bukan itu saja... dua event olahraga paling populer di dunia ini, dua-duanya diprakarsai oleh orang Perancis. Piala Dunia (Coupe du Monde) sepakbola diprakarsai oleh orang Perancis, Jules Rimet. Sedangkan olimpiade, walaupun olimpiade berasal dari Yunani, tetapi olimpiade modern dipelopori juga oleh orang Perancis yang bernama Baron Pierre de Coubertin! Terlebih lagi Perancis saat ini merupakan tempat di Eropa Barat yang paling subur umat Islamnya. Demokrasi dan persamaan hak dan toleransi yang berkembang dengan baik di Perancis (tentu saja tidak ada sistem yang sempurna, masih ada kekurangan di sana sini), telah memungkinkan umat Islam untuk beremigrasi ke Perancis dan mendapatkan kehidupan yang layak dan tenang di negeri itu serta diberi jaminan melakukan kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinan agama masing-masing, dalam hal ini Islam. Pokoknya banyak catatan panjang yang membuat saya sangat menghargai negeri yang juga disebut L'Hexagone ini karena bentuk fisik negaranya yang secara kasar mirip segi enam ini.

Kita kembali ke masalah mentalitas kita ini. Pokoknya banyak sekali contohnya di sekitar kita di mana orang-orang Sunda sendiri secara tidak langsung tidak menghargai bahasanya sendiri. Banyak event-event akbar yang digelar di Bandung diberi judul pakai bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya. Belum lagi yang kita temukan di mal-mal, papan reklame, dsb. Tentu anda dengan mudah dapat mencarinya sendiri! Saya sendiri, meskipun sudah terbiasa berbahasa Inggris, namun saya masih ingin menulis blog saya memakai bahasa Indonesia. Sebenarnya saya ingin sekali menulis seluruh posting saya dalam bahasa Inggris, namun akhirnya saya memutuskan untuk memakai bahasa Inggris dan Indonesia berselang-seling. Ini bentuk apresiasi saya kepada bahasa nasional kita.

Memang sulit bagi kita di zaman keterbukaan ini untuk tidak dapat berbahasa Inggris (asing). Dan saya sadar bahwa bahasa Sunda (dan bahasa-bahasa daerah lainnya) tidak hanya bersaing dengan Bahasa Indonesia tetapi juga harus bersaing dengan bahasa-bahasa asing seperti bahasa Inggris, Mandarin, Jepang, Perancis dan lain-lain, bahasa-bahasa tersebut dengan mudah dapat menarik simpati orang-orang di negeri ini, terutama karena prestasi bangsa-bangsa penutur bahasa-bahasa tersebut memang menyilaukan. Tetapi saya yakin jikalau memang bahasa Sunda menjadi punah itu bukan karena semata-mata serbuan bahasa-bahasa asing tersebut, tetapi lebih karena mentalitas orang-orang Sunda itu sendiri. Dan skenario seperti itu tentu saja bukan hanya berlaku bagi bahasa Sunda saja, tetapi juga berlaku bagi bahasa-bahasa lainnya di negeri ini bahkan mungkin juga berlaku bagi bahasa Indonesia yang kita cintai ini.

Wassalamu 'alaikum wr. wb.