Wednesday, April 4, 2007

Di antara anggota DPR(D) dan Yusril Ihza Mahendra

Melalui artikel ini kembali saya akan meng.....GHIBAH!! Horeeee.... hidup ghibah! Biarin lah meng-ghibah juga, masih lebih baik mengghibah daripada korupsi, dapat duit haram apalagi ditambah munafik! Ya nggak?? Memang kebetulan tema artikel saya kali ini tentang anggota DPR(D) dan juga mantan (atau masih?? nggak tahulah... emang gue pikirin!!) menteri kita Yusril Ihza Mahendra! Wah ada apa tuh dengan mereka? Begini nih.....

Kita tentu telah mendengar akhir-akhir ini lewat media massa bahwa anggota DPR(D) kita mendapat jatah laptop! (Dulu bonus duit telekomunikasi atau apalah sekarang jadi dapat laptop mereka!) Waaah.... asyik dong ya?? Saya juga mau tuh! hehehehe...! Tapi kok aneh ya? Anggota DPR(D) yang notabene kebanyakan orang-orang berduit kok dikasih laptop ya? Apa mereka nggak mampu beli laptop?? Kenapa saya yang 'miskin' kok nggak kebagian ya?? (hehehe... emang siapa yang mau ngasih lu laptop, lagi!!) Eh, salah deh..... saya juga bisa kebagian laptop, tinggal minta boss aja, boss gue sayang kok sama gue...hihihi....Tapi sayang..... saya malu tuh minta sama boss, dikasih aja saya malu kok (walaupun dalam hati mau!) apalagi kalau saya tidak bisa menunjukkan prestasi saya di kantor. Malu deh udah berkumis seperti ini masih minta boss, malu deh gue sama kumis gue hehehehe. Kalau begitu ya udah deh, biarkan saja para anggota DPR(D) itu dapat laptop mudah-mudahan kinerja mereka tambah baik walaupun dari pengalaman yang sudah-sudah (dan cukup sudah!) penambahan-penambahan bonus-bonus yang diberikan kepada para anggota DPR(D) tidak pernah menambah prestasi dan kinerja mereka. Apalagi cuma dikasih laptop tuh! buat apa?? Lha wong rata-rata mereka belum tentu lebih pintar dari saya dalam menggunakan komputer kok. Paling-paling yang mereka gunakan hanya MS-Word dan sedikit MS-Excel, itu juga paling-paling bisanya cuma operasi aritmatika dasar dan juga pengurutan data berdasarkan abjad atau numerik. Paling-paling cuma itu! O iya mungkin ditambah Windows Media Player atau program multimedia player lainnya untuk mendengarkan musik-musik mp3 atau menonton video-video porno! Malah kabarnya di beberapa daerah yang sudah menjalankan program laptop untuk para anggota DPRD ini, laptop-nya udah ada yang rusak! Wah mubazir amat tuh! Daripada membelikan anggota DPRD yang tak berguna itu laptop, mendingan anggarannya dibuat untuk beli komputer untuk sekolah-sekolah tertinggal dan universitas-universitas negeri. Kasihan tuh banyak siswa-siswa atau mahasiswa-mahasiswa yang berprestasi tapi tak mampu beli komputer sehingga harus berdesak-desakkan di rental komputer atau harus pergi ke rumah temannya yang mampu. Kan lumayan tuh?? Hitung-hitung untuk investasi ikut membuat generasi muda yang bermutu untuk masa depan. Eh, omong-omong saya mau dong jadi anggota DPR(D).... enak fasilitasnya banyak...saya jadi iri deh....hihihihihi.... eh tapi nggak bisa ya?? Soalnya benar nggak sih, anggota DPR(D) harus berijazah S1?? Ya udah deh..... saya mau beli ijazah S1 aja dulu..... di UNPAD dijual nggak ya?? Kalau ada mau beli dong! berapa ya kira-kira harganya kalau ada?? hehehehe....

Oke, sekarang kita pindah bahan ghibahan dari para anggota DPR(D) ke Yusril Ihza Mahendra! Saya ingat dulu di akhir tahun 1990an dan awal tahun 2000an, si Yusril ini sering tampil di televisi dan ikut memberi ceramah-ceramah agama di televisi. Dulu saya mengira, wah tipe orang seperti ini nih yang diperlukan oleh negara, muda, cerdas (minimal berpendidikan formal lah... meskipun bahasa Inggrisnya masih bagusan gue!), simpatik (bukan SIMpanse PAkai baTIK lho!) dan kelihatannya ini orang mengerti benar masalah agama! Eh, nggak tahunya sekarang ternyata dia doyan juga sama duit haram! hihihihi.... Menurut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), harta kekayaan si Yusril ini sejak jadi menteri harta kekayaannya membengkak 3 kali lipat jadi sekitar Rp 6 milyar,-. Wow. Menurut rumus matematika yang paling canggihpun dengan gaji seorang menteri nggak akan mungkin hartanya dia akan bertambah sebanyak itu! Apalagi si Yusrilpun ternyata tidak bisa menjawab darimana kebanyakan hartanya itu berasal. Nah lho! KPK mencurigai Yusril jadi tempat 'penampungan' sementara harta dari keluarga Cendana yang berasal dari BNP Paribas di London (kalau nggak salah!). O iya.... kata seorang ibu-ibu muda berjilbab, orang tua dari teman anak saya, yang dari dulu nge-fans banget (atau tepatnya mungkin naksir kali ya, tapi nggak kesampaian hihihihi....) sama si Yusril, memberikan pembenaran dengan alasan sederhana: "Lah, Yusril kan juga manusia!). LHA IYALAH, sama gue juga manusia yang doyannya mengghibah (tapi mengghibah yang kenyataan bukan yang fitnah). Hehehehe.... udah mengghibah bangga lagi ya? Biarin deh... daripada udah korupsi masih cuek pula.... apalagi masih sok suci! Duuuh!

Menurut saya ini adalah kesalahan falsafah hidup orang Indonesia secara tak langsung di mana status sosial masih semata-mata diukur berdasarkan nilai uang yang dimiliki, bukan berdasarkan ukuran dari mana duit itu berasal, atau bukan berdasarkan pekerjaan apa yang ia lakukan. Di Swiss atau Austria, seseorang yang mendapatkan kekayaan dari jalan korupsi dianggap sangat hina betapapun ia kayanya. Dan menurut survey di Jepang dan di AS yang saya pernah baca (tapi lupa di mana), kebanyakan masyarakat menilai seorang dokter jauh lebih terhormat daripada menjadi seorang pengusaha, walaupun mungkin menjadi seorang pengusaha bisa jadi jauh lebih kaya dari seorang dokter. Itu mungkin karena profesi seorang dokter yang dekat dengan penyembuhan orang sakit dan juga kenyataan bahwa menjadi seorang dokter lebih sulit daripada menjadi seorang pengusaha. Dengan modal duit Rp 10 juta,- misalnya mungkin anda sudah bisa menjadi seorang pengusaha tapi dengan duit tersebut belum tentu anda bisa menjadi dokter. Nah, di Indonesia ini status sosial kebanyakan masih dihitung hanya berdasarkan nilai uang yang dimiliki, jadinya ya banyak seperti Yusril-Yusril di negeri ini, yang penting kaya (asal jangan kaya(k) monyet!), nggak penting itu duit halal apa haram!

Ok deh, untuk para sisters dan brothers yang membaca artikel saya ini. Konklusi saya adalah, saya bukannya ingin mengajak sis dan bros untuk mengghibah seperti saya. Ya nggak lah. Bagaimanapun juga perbuatan mengghibah itu sesuatu perbuatan yang negatif dan tentu saja dapat bersifat merusak atau dekonstruktif, tapi saya ingin menunjukkan bahwa banyak hal-hal lain yang jauh lebih merusak dibandingkan dengan sekedar ghibah, seperti korupsi dan munafik! Saya senang jikalau ada dari bro dan sis yang memperingatkan saya kalau saya sedang mengghibah, tapi saya lebih senang lagi kalau tindakan para bro dan sis tidak berhenti sampai di sini. Mudah-mudahan para bro dan sis pun juga berani menegur dan mencegah orang-orang di sekitar bro atau sis yang melakukan 'korupsi' di kantornya walaupun itu kecil-kecilan. Jangan malah ikut-ikutan, malah sampai ikut-ikutan nge-mark-up segala!!! Ok?

Wassalamu'alaikum wr wb.

No comments: