
Sejak kira-kira 10 tahun yang lalu, saya ini adalah seorang 'kolektor' jam tangan. Tapi bukan jam tangan yang kelas tinggi sih, tapi jam tangan yang kelas menengah saja. Arloji-arloji (jam tangan) saya kebanyakan adalah merk Casio, Timex, Yema, Seiko, Citizen dan Swatch (yang asli dari counter-nya lho, bukan yang palsu) yang harganya antara Rp.250.000,- hingga Rp. 2 juta,-. Kalau beli yang harganya lebih dari Rp. 2 juta,- masih belum mampu hehehehe... jadi harap maklum. Mungkin satu-satunya arloji saya yang mungkin termasuk mewah adalah arloji Tissot-T-Touch Titanium yang seperti gambar di sebelah ini, pemberian (lagi-lagi pemberian) boss saya sewaktu saya berulang tahun Agustus 2006 lalu. Jam ini juga sekaligus menjadi jam kesayangan saya. Waktu itu sekali saya pernah iseng-iseng cek harga ke toko Central Watch di BIP, harganya cukup mencengangkan buat saya yaitu sekitar US$1425 atau sekitar Rp. 14 juta,-. Kalau saya sendiri sih untuk sekarang ini mana kuat beli jam dengan harga segitu. Jam tangan ini selain berfungsi sebagai penunjuk waktu, bisa juga berfungsi sebagai Thermometer, Barometer, Altimeter dan Kompas dan tentu saja fitur-fitur standarnya seperti alarm, stopwatch, timer dan lain-lain. Tapi saya paling suka adalah fitur kompasnya, jika dia berfungsi sebagai kompas, jarum jamnya dengan luwesnya bisa berubah fungsi menjadi jarum kompas penunjuk arah selain data digital arah yang ditampilkan di layar LCD-nya. Pokoknya sip deh!
O iya, itu bukan topik utama saya kali ini. Itu tadi hanya prelude aja untuk memperpanjang artikel hehehe... tapi sedikit banyak ada hubungannya dengan topik utama. Suatu hari di hari Minggu (saya udah lupa persisnya kapan), saya dan anak saya berkunjung ke masjid Salman ITB melihat pameran buku, sekalian sholat dzuhur dan makan di kantin Salman-nya. Pulangnya saya mampir di pasar Balubur di dekatnya untuk mengganti baterai arloji Timex Sports 1440 saya. Memang ada beberapa kios baik milik pribumi ataupun non-pri yang menjual baterai kancing CR-2032 untuk arloji Timex saya tersebut. Pilihan jatuh kepada kios yang tidak begitu besar milik pribumi. Lalu jam saya serahkan ke si penjaga kios untuk diganti baterainya. Namun dalam hati waktu itu kok ada perasaan nggak enak, lalu bergegas saya bertanya: "Kang, harganya berapa baterainya?" "Rp. 15.000,-, pak". Aku terkejut bukan main. Disangkanya saya nggak pernah beli baterai kancing CR-2032 kali. Di toko langganan saya di pasar Cihapit milik non-pri harga baterai tersebut cuma Rp. 6.000,-. Saya merasa tertipu dan 'ditodong' ingin deh rasanya waktu itu saya marah dan mukul itu orang tapi syukur saya masih bisa mengendalikan diri. Lagipula baterai baru sudah dibuka dari kemasan dan akan dimasukkan ke dalam arloji. Tapi sebagai pelampiasan saya berkata dengan ketus ke si penjaga kios, "Asal tahu aja ya kang, di toko langganan saya di Cihapit baterai kayak gitu cuma Rp. 6.000,-". Si penjaga kios tidak menjawab, rupanya dia merasa bahwa saya tidak mudah 'dikibulin'. Setelah selesai memasukkan baterai, ia menyerahkan jam tersebut kepada saya, namun saya lihat pekerjaannya kurang rapih, terlihat benar pergelangan jamnya tidak masuk benar ke tempatnya. Kesempatan ini saya gunakan untuk sedikit mendamprat dan menyindir dia, "Kang, gimana nih moso pergelangannya belum masuk bener nih, udah mahal nggak rapih lagi kerjaannya" kataku. Si penjaga kios lalu membetulkan pergelangan jamnya dan mengembalikannya ke saya sambil berkata "Udah pak, Rp. 10.000,- aja, tapi jangan marah ya pak!". Saya yang masih agak dongkol langsung membayar dan pergi meninggalkan kios tanpa mengucapkan terima kasih atau apapun!
Sekarang saya ingin bertanya (mudah-mudahan dapat terjawab di dalam e-ta'lim kita nanti hehehe...) bagaimana sih etika bisnis dalam Islam? Apakah 'dibenarkan' dalam Islam untuk mengambil keuntungan setinggi-tingginya? Memang seperti yang pernah saya baca di salah satu kolom tanya jawab di eramuslim.com di sana pernah dikatakan bahwa dalam Islam dalam mengambil keuntungan itu tidak ada batasannya artinya boleh mengambil keuntungan sebesar-besarnya, apakah itu 2x, 3x atau bahkan lebih. Tapi pertanyaannya sekarang adalah apakah dengan pedagang itu mengambil keuntungan yang besar itu dapat disamakan dengan menipu? Ok lah....mungkin jawaban yang lumayan baik adalah, itu tergantung dari niat! Kalau niatnya mengambil keuntungan itu namanya bukan menipu, tapi kalau niatnya menipu itu baru namanya menipu. Ok lah.... tapi bagaimana dari sudut pandang pembeli?? Seperti kasus saya di atas?? Saya benar-benar merasa tertipu terlepas dari niat si penjaga kios! O iya... pertanyaan saya di sini terlepas dari konsep market competition di mana kompetisi di pasar akan cenderung menstabilkan harga pasar. Saya hanya ingin tahu dari sudut pandang Islam. Mudah-mudahan inshallah saya akan mendapatkan jawaban yang baik dan memuaskan. Amin. Jangan sampai ada kesan kok orang-orang Islam dalam berdagang maunya 'menipu' sih.
Wassalamu alaikum wr. wb.
1 comment:
Hi,
I begin on internet with a directory
Post a Comment